News  

Memprihatinkan, Lansia Sebatang Kara di Gowa Tinggal Seatap Dengan Ayam

SULSELNEWS.NET — Seorang lansia bernama Daeng Gassing S (61) menjalani hidup seorang diri dalam kondisi yang memprihatinkan di Dusun Tanetea, Desa Bontomanai, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Ia menempati sebuah rumah sederhana berukuran sekitar 4×6 meter yang jauh dari kata layak huni. Sebagian bangunan terlihat lapuk dimakan usia, bahkan di beberapa bagian nyaris ambruk.

Kondisi di dalam rumah pun tidak kalah memprihatinkan. Daeng Gassing harus berbagi ruang dengan ayam-ayam peliharaan yang setiap malam naik dan bertengger di bagian atas rumah.

Bagian dapur terlihat paling parah. Lantai dan dinding dari anyaman bambu sudah rusak berat. Selain itu, rumah tersebut juga tidak dilengkapi fasilitas dasar seperti WC.

Rumah yang ia tempati bukan hasil jerih payahnya sendiri, melainkan dibangun oleh ponakannya yang berasal dari Maros.

“Kalau saya tinggal di sini sekitar 20 tahun. Cuma sendiri. Ponakan orang Maros, yang bangunkan rumah,” ujarnya dengan dialek Makassar saat ditemui, Senin (4/5/2026).

Selama kurang lebih dua dekade, ia hidup tanpa pendamping. Tidak ada keluarga inti yang menemani hari-harinya di usia senja.

Dahulu, ia masih bisa bekerja sebagai buruh tani dengan mencangkul di sawah milik warga. Namun kini, kondisi fisiknya yang kian menurun membuatnya tak lagi mampu bekerja.

“Sudah tidaka ada yang bisa saya kerja. Dulu biasa dipanggil mencangkul kalau ada kerja sawah. Tapi sekarang sudah tua, tidak bisa bekerja. Jadi tinggal di rumah,” tuturnya.

Kini, sebagian besar waktunya dihabiskan di dalam rumah dengan kondisi serba terbatas. Untuk kebutuhan makan sehari-hari, ia mengandalkan bantuan dari tetangga maupun keluarga yang masih peduli.

“Biasa habis beras. Yang bawa tetangga. Cucu dari saudara yang bawakan. Kalau saya tidak meminta, cuma masih ada yang peduli,” ungkapnya.

Meski hidup dalam keterbatasan, ia tetap berusaha menjaga harga diri dengan tidak meminta-minta.

“Saya memang membutuhkan bantuan. Tapi saya tidak meminta-minta,” tegasnya.

Jika persediaan makanan habis, ia hanya mendatangi keluarga terdekat untuk memberi isyarat bahwa dirinya tidak bisa memasak.

“Alhamdulillah umpamanya habis beras, ada lagi yang bawa. Itupun kalau habis beras saya pergi ke rumahnya saudara. Saya cuma bilang tidak memasaka,” ujarnya lirih.

Terkait bantuan pemerintah, Daeng Gassing mengaku tidak banyak mengetahui program yang pernah ia terima. Ia hanya mengingat pernah dipanggil untuk menerima bantuan langsung tunai (BLT), namun saat itu ia sedang sakit.

“Saya tidak tahu kecuali saat itu pak desa yang panggil pergi terima (BLT), tapi saya tidak bisa bangun (saat itu sakit),” katanya.

Ia juga mengingat pernah menerima bantuan berupa beras, mie instan, sabun, dan minyak goreng, yang diantarkan oleh orang lain karena ia tidak mampu mengambilnya sendiri.

“Jadi saat itu ada anaknya yang bawakan beras. Putih sekali berasnya satu karung, mie, sabun dan minyak. Tapi itu sudah lama,” kenangnya.

Bantuan terakhir yang ia terima disebut berasal dari UPZ Pemprov Sulsel pada tahun 2023. Setelah itu, tidak ada lagi bantuan rutin yang ia rasakan.

Ketiadaan fasilitas WC menjadi salah satu kondisi paling memprihatinkan. Untuk buang air besar, ia terpaksa melakukannya di belakang rumah.

“Iye tidak ada. Orang biasa bilang ada bantuan WC tapi tidak pernah ada. Banyak pergi foto di rumah tapi tidak ada yang jadi seperti bedah rumah. Yang saya ingat ada kasih bantuan seng untuk penutup dinding,” ujarnya.

Sementara itu, kondisi di dalam rumah juga memperlihatkan kehidupan yang jauh dari layak, termasuk keberadaan ayam yang ikut “menumpang” di atap rumah.

“Di atas situ ayam kalau malam (menunjuk bagian atas rumah). Saya di sini tidur. Ayam di atas bagian luar sedikit di saluran,” tuturnya.

Di tengah keterbatasannya, perhatian masih datang dari keluarga, terutama cucu saudaranya, Darmadi Daeng Mile (40). Ia mengaku kerap mengajak Daeng Gassing untuk tinggal bersama agar lebih terurus.

“Sering kita panggil ke rumah tinggal, tapi dia tidak mau. Padahal dia di sini sendiri. Rumahnya juga tidak terurus,” kata Darmadi.

Namun, Daeng Gassing tetap memilih bertahan di rumah tersebut meskipun kondisinya sangat memprihatinkan.

“Jadi dia sama tinggal dengan ayamnya,” tambahnya.

Sepanjang hidupnya, Daeng Gassing diketahui belum pernah menikah, sehingga tidak memiliki istri maupun anak yang mendampinginya di usia tua.

“Tidak ada, belum pernah punya istri. Jadi yang perhatikan itu ponakan sama cucunya saja dari saudaranya,” jelas Darmadi.

Ia juga menilai perhatian pemerintah terhadap kondisi Daeng Gassing masih sangat minim, terutama untuk kebutuhan dasar seperti WC dan bantuan sembako.

“Beginimi kondisinya. Dari pemerintah juga kurang perhatian. Apalagi kan banyak bantuan WC, tapi dia tidak ada bantuan WC. Kalau mau buang air besar langsung ke belakang rumah,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *