News  

Jusuf Kalla: Majelis Taklim Perempuan Harus Jadi Penggerak Dakwah, Pendidikan, dan Ekonomi Umat

SULSELNEWS.NET – Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusuf Kalla, menegaskan bahwa majelis taklim perempuan harus mengambil peran lebih besar, tidak hanya sebagai wadah pembinaan keagamaan, tetapi juga menjadi pusat pendidikan, pengembangan keterampilan, dan pemberdayaan ekonomi umat.

Hal itu disampaikan Jusuf Kalla usai melantik Nora Yosse Novia sebagai Ketua Badan Koordinasi Majelis Taklim Masjid (BKMM) DMI periode 2026–2031 sekaligus membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I BKMM DMI di Auditorium Kampus Universitas YARSI, Jakarta Pusat, Jumat (17/7/2026).

Dalam sambutannya, Jusuf Kalla mengucapkan selamat kepada seluruh pengurus BKMM DMI yang baru dilantik. Ia berharap kepengurusan baru mampu menghadirkan program-program yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

“Semoga dalam menjalankan tugas, para pengurus memberikan berbagai kegiatan yang bermanfaat untuk kita semua,” ujar Jusuf Kalla.

Menurutnya, perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam perjalanan dakwah Islam. Ia mencontohkan Siti Khadijah RA sebagai sosok yang menjadi pendukung utama perjuangan Rasulullah SAW sejak awal penyebaran Islam.

“Tanpa dukungan Khadijah, mungkin perkembangan Islam tidak seperti sekarang ini. Ini menunjukkan bagaimana fungsi perempuan dalam kehidupan dan pengembangan Islam,” katanya.

Jusuf Kalla menilai masjid dan majelis taklim harus mampu menjalankan fungsi yang lebih luas. Selain menjadi tempat ibadah, keduanya juga harus menjadi pusat pendidikan, kegiatan sosial, hingga pemberdayaan masyarakat.

“Masjid bukan hanya berbicara tentang akhirat, tetapi juga harus berbicara tentang dunia. Apa yang diperoleh di akhirat bergantung pada apa yang kita lakukan di dunia,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara pemahaman agama dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menurutnya, umat Islam harus memiliki kemampuan agar mampu menghadapi tantangan dan bersaing di era modern.
“Dunia tanpa ilmu pengetahuan dan teknologi akan membuat seseorang sulit bersaing. Karena itu, kehidupan dunia dan akhirat harus berjalan seimbang,” ujarnya.

Selain itu, Jusuf Kalla menyoroti peran strategis seorang ibu dalam membentuk karakter dan pendidikan agama anak di lingkungan keluarga. Menurutnya, ibu menjadi sosok yang paling banyak berinteraksi dengan anak sehingga memiliki pengaruh besar dalam menanamkan nilai-nilai keislaman.

“Anak belajar agama biasanya dari ibu, karena ibu lebih banyak bersama anak di rumah. Karena itu peranan ibu sangat penting dalam membangun keluarga yang baik,” katanya.

Di bidang pemberdayaan masyarakat, Jusuf Kalla mendorong agar majelis taklim menghadirkan materi yang lebih beragam. Selain kajian agama, pengajian juga diharapkan menghadirkan para ahli di bidang kewirausahaan, kuliner, menjahit, maupun keterampilan lainnya untuk meningkatkan kesejahteraan jamaah.

“Pengajian tidak hanya mengundang ustaz dan ustazah, tetapi juga para ahli tentang kuliner, bagaimana berusaha yang baik, keterampilan menjahit, dan bidang lainnya. Agama harus didukung dengan kemampuan,” ungkapnya.

Ia menegaskan, dakwah harus berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penguatan ekonomi produktif.
“Kita jangan terlalu banyak membahas sesuatu, tetapi harus melaksanakan. Dakwah harus seimbang antara kebutuhan duniawi, keahlian, dan akhlak yang baik,” tegas Jusuf Kalla.

Menutup sambutannya, Jusuf Kalla berharap kepengurusan BKMM DMI periode 2026–2031 mampu membawa majelis taklim menjadi organisasi yang semakin maju dan memberikan kontribusi nyata bagi umat, baik dalam bidang ibadah, pendidikan, akhlak, maupun pemberdayaan ekonomi.

“Kemajuan harus berjalan bersama. Anak-anak kita bukan hanya belajar mengaji, tetapi juga harus belajar ilmu pengetahuan yang lebih dalam. Itulah keseimbangan yang kita harapkan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *