Oleh : Andi Muh Fadli (Dosen FDK UIN Alauddin)
SULSELNEWS.NET —Tahun ini Haul ke-312 Raja Bone Lapatau Matanna Tikka di jadwalkan terlaksana 25 September. Para kerabat yang, tersebar di seluruh Indonesia akan pulang kampung sambil ziarah Makam Puatta di Nagauleng. Kalimat sederhana tapi penuh makna, Merawat Jejak Leluhur, Meneguhkan Identitas Keturunan, dan Menjawab Tantangan Zaman.
Ratusan tahun bukanlah waktu yang singkat. Meski baru dalam beberapa tahun terakhir acara seperti ini rutin di lakukan oleh Perhimpunan Wija Raja Lapatau Matanna Tikka. Dalam perjalanan sebuah keluarga besar, sebuah komunitas, bahkan sebuah kebudayaan, dua belas tahun cukup untuk melihat perubahan zaman, pergantian generasi, dan bergesernya cara manusia memaknai sejarah. Karena itu, Haul ke-312 atas wafatnya Raja Bone bukan semata-mata sebuah kegiatan untuk mengenang seseorang yang telah tiada, tetapi merupakan momentum untuk kembali menengok akar sejarah dan nilai-nilai yang diwariskan kepada keturunannya.
Dalam tradisi masyarakat Bugis, hubungan dengan leluhur bukan hanya persoalan garis keturunan. Ia juga berkaitan dengan nilai, martabat, tanggung jawab, dan identitas budaya. Menjadi keturunan raja tidak seharusnya dipahami sekadar sebagai kebanggaan atas nama besar masa lalu. Justru, di dalamnya terdapat tanggung jawab moral untuk menjaga kehormatan, keteladanan, dan nilai-nilai baik yang pernah diwariskan oleh para pendahulu.
Haul menjadi penting karena ia memberikan kesempatan kepada generasi sekarang untuk bertanya: apa yang masih kita warisi dari leluhur selain nama dan garis darah?
Pertanyaan ini semakin relevan di tengah perubahan zaman. Generasi muda saat ini hidup dalam dunia yang sangat berbeda dengan kehidupan para leluhur. Teknologi digital telah mengubah cara berkomunikasi, cara belajar, bahkan cara seseorang memahami identitas dirinya. Budaya global begitu mudah masuk dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam situasi seperti ini, keturunan Raja Bone tidak cukup hanya mengenal silsilah keluarganya. Mereka perlu memahami nilai dan sejarah yang membentuk identitas tersebut.
Keturunan bukan hanya tentang siapa ayah dan ibu kita, siapa kakek dan nenek kita, atau dari kerajaan mana garis leluhur kita berasal. Keturunan seharusnya menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Melalui keturunanlah nilai-nilai sejarah dapat diteruskan, tetapi melalui generasi muda pula nilai-nilai tersebut dapat diberi makna baru sesuai dengan kebutuhan zaman.
Karena itu, memperingati Haul ke-312 semestinya tidak berhenti pada acara seremonial. Haul dapat menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi antarketurunan, mendokumentasikan sejarah keluarga dan kerajaan, mengenalkan budaya Bugis kepada generasi muda, serta membangun kepedulian sosial. Dengan demikian, penghormatan kepada leluhur tidak hanya dilakukan melalui doa dan upacara, tetapi juga melalui tindakan nyata.
Ada satu hal yang perlu kita renungkan bersama: jangan sampai kita begitu bangga menyebut diri sebagai keturunan raja, tetapi kehilangan nilai-nilai yang dahulu membuat leluhur kita dihormati.
Kebangsawanan dalam konteks kekinian seharusnya tidak lagi diukur dari gelar, status sosial, atau kedekatan dengan kekuasaan. Ukuran yang lebih penting adalah kualitas pribadi, ilmu pengetahuan, integritas, kepedulian sosial, serta kemampuan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dalam konteks inilah warisan budaya Bugis menjadi sangat penting. Nilai siri’ na pacce, sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge bukan sekadar istilah yang indah untuk disebut dalam acara adat. Nilai tersebut harus hadir dalam perilaku sehari-hari: saling menghormati, saling mengingatkan, menjaga martabat, memiliki empati, dan tidak meninggalkan saudara ketika menghadapi kesulitan.
Generasi keturunan Raja Bone hari ini memiliki tantangan sekaligus peluang yang besar. Mereka dapat menjadi generasi yang tidak hanya bangga terhadap sejarah, tetapi juga mampu membawa nilai sejarah itu ke dalam pendidikan, kebudayaan, dunia profesional, teknologi, pemerintahan, kewirausahaan, dan kehidupan sosial.
Dengan demikian, mengenang Mangkau_Raja Bone bukan berarti hidup dalam romantisme masa lalu. Justru sebaliknya, mengenang leluhur harus menjadi energi untuk membangun masa depan.
Haul ke-312 hendaknya menjadi titik temu antara sejarah, keturunan, dan masa depan. Sejarah memberi kita akar. Keturunan memberi kita kesinambungan. Sedangkan masa depan menuntut kita untuk membuktikan bahwa warisan leluhur benar-benar memiliki makna.
Pada akhirnya, seorang leluhur tidak hanya dikenang karena pernah menjadi raja, tetapi karena nilai dan keteladanannya tetap hidup setelah ia tiada. Begitu pula sebuah keturunan tidak akan besar hanya karena memiliki hubungan darah dengan seorang raja. Keturunan akan menjadi berarti apabila mampu menjaga kehormatan nama tersebut melalui karya, persaudaraan, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Maka, Haul ke 312 Lapatau Matanna Tikka hendaknya kita maknai sebagai sebuah pesan lintas generasi. ‘Lao Sapa Deceng, Lisu Mappadeceng’ artinya pergi merantau mencari hal yang baik dan akan kembali untuk untuk mengaplikasikan hal yang terbaik.
Kenali leluhurmu, pahami sejarahmu, rawat budayamu, tetapi jangan berhenti pada masa lalu. Jadikan warisan leluhur sebagai bekal untuk membangun masa depan. Akhirnya, kami mengharap kedatangan Wija dari seluruh nusantara dalam bingai silaturahmi nasional pada 25 September 2026.
Sebab pada akhirnya, tugas generasi hari ini bukan hanya menjadi pewaris sejarah, tetapi juga menjadi pencipta sejarah berikutnya.












