News  

Gelar Musrenbang Tematik di Bontoala, DPPKB Makassar Targetkan Penurunan Stunting Secara Masif

SULSELNEWS.NET–Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) terus memperkuat komitmen nyata dalam menekan angka stunting secara terintegrasi.

Langkah strategis ini diwujudkan melalui pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tematik Stunting Tingkat Kecamatan Bontoala Tahun 2026 yang berlangsung pada Senin (20/4).

​Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Dinas PPKB Kota Makassar, Andi Irwan Bangsawan, serta dihadiri oleh jajaran pemerintah kecamatan, kelurahan, instansi kesehatan, hingga tim penyuluh lapangan.

Agenda utama musrenbang ini berfokus pada perumusan program kerja yang tepat sasaran, sinkronisasi data, serta penguatan kolaborasi lintas sektor demi mempercepat pencapaian target zero stunting di wilayah tersebut.

​Dalam pemaparannya, Kepala Dinas PPKB Kota Makassar Andi Irwan Bangsawan menyatakan optimisme tinggi terhadap program-program intervensi yang tengah berjalan. Ia menekankan pentingnya sinergi kolektif dari tingkat kota hingga ke garda terdepan di masyarakat.

​”Kami sangat yakin di bulan ini dan di tahun ini angka stunting akan turun drastis. Hal ini didorong oleh kegiatan yang masif dari Dinas KB yang berkolaborasi aktif bersama Dinas Kesehatan, pemerintah kecamatan, hingga kelurahan melalui para penyuluh KB yang ada di Kota Makassar,” tuturnya.

“Salah satu strategi kunci yang terus kita genjot untuk mempercepat penurunan stunting adalah pemberian makanan yang bergizi secara rutin kepada sasaran prioritas,” ujar Andi Irwan Bangsawan saat memberikan materi.

​Musrenbang tematik ini juga membedah pemahaman klinis dan teknis penanganan gizi masyarakat. Kepala Puskesmas Malimongan Baru turut memberikan edukasi penting mengenai distingsi kondisi kesehatan anak.

Menurutnya, pemahaman yang tepat sangat diperlukan agar intervensi tidak salah sasaran. Ia menjelaskan bahwa terdapat perbedaan mendasar antara gizi buruk dan stunting. Singkatnya, stunting merupakan manifestasi dari masalah gizi yang bersifat kronis (jangka panjang), sedangkan gizi buruk cenderung bersifat akut (terjadi dalam waktu relatif singkat).

​Melengkapi aspek penanganan di lapangan, Kepala Puskesmas Layang menegaskan bahwa efektivitas penanggulangan stunting wajib menyasar akar rumput melalui pemantauan berkala.

Pihaknya menekankan bahwa penanganan stunting harus melalui intervensi gizi secara spesifik yang menyasar 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Strategi ini dilakukan dengan menyisir semua ibu hamil di wilayah kerja, mengontrol kecukupan gizi mereka secara ketat, serta memastikan kelancaran pemberian makanan tambahan (PMT).

​Melalui wadah Musrenbang Tematik ini, seluruh pemangku kepentingan sepakat untuk melahirkan program-program inovatif yang berkelanjutan demi meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak.

Komitmen bersama ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, sekaligus membawa Kota Makassar menjadi daerah yang tangguh dan bebas stunting. (*)