Oleh: Prof (Hc) Dr. KH. Kaswad Sartono, M.Ag (Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Kota Makassar)
SULSELNEWS.NET —Hari ini, umat Islam di berbagai belahan dunia memasuki 1 Muharram 1448 Hijriyah, sebuah momentum penting yang bukan sekadar pergantian angka tahun, tetapi juga ruang refleksi untuk membaca kembali perjalanan sejarah, memetik hikmah peradaban, serta membangun semangat hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.
Setiap momentum waktu dan sejarah selalu meninggalkan nilai, makna, dan spirit. Waktu bukan hanya deretan hari yang berlalu, melainkan cermin bagi manusia untuk melakukan evaluasi, introspeksi, dan transformasi diri. Karena itu, Tahun Baru Islam sesungguhnya bukan hanya peristiwa kalender, tetapi juga peristiwa peradaban.
Banyak orang mengenal Kalender Hijriyah sebagai kalender umat Islam, tetapi tidak semua mengetahui sejarah kelahirannya. Pada masa Rasulullah SAW, umat Islam memang telah mengenal nama-nama bulan seperti Muharram, Safar, Rabiul Awal, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Nama-nama bulan tersebut bahkan disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis. Namun, pada masa itu belum terdapat sistem penanggalan resmi yang digunakan sebagai penghitungan tahun secara teratur sebagaimana kalender dunia lainnya.
Setelah Rasulullah SAW wafat dan wilayah Islam berkembang semakin luas, muncul kebutuhan administratif yang semakin kompleks. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab sekitar tahun 638 Masehi, ditemukan sejumlah surat resmi dari gubernur Basrah, Abu Musa Al-Asy’ari, yang tidak mencantumkan tanggal dan tahun sehingga menimbulkan kesulitan dalam administrasi pemerintahan.
Persoalan ini mendorong Khalifah Umar bin Khattab mengundang para sahabat utama untuk bermusyawarah mencari solusi. Sebuah “bahtsul masail” peradaban dilakukan untuk merumuskan sistem kalender yang dapat menjadi identitas sekaligus instrumen administrasi negara Islam.
Dalam musyawarah tersebut, para sahabat sepakat bahwa umat Islam memerlukan sistem penanggalan tersendiri. Pertanyaannya kemudian adalah: peristiwa apa yang layak dijadikan titik awal perhitungan tahun? Dan bulan apa yang pantas menjadi awal tahun?
Berbagai momentum besar dalam sejarah Islam menjadi bahan pertimbangan. Ada yang mengusulkan kelahiran Nabi Muhammad SAW, ada yang mengusulkan peristiwa Nuzulul Qur’an, dan ada pula yang mengusulkan wafatnya Rasulullah SAW. Namun, sahabat Ali bin Abi Thalib mengajukan usulan yang sangat visioner, yaitu menjadikan peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah sebagai titik awal kalender Islam.
Hijrah dipandang bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan tonggak lahirnya peradaban Islam. Di Madinah, Islam berkembang menjadi kekuatan sosial, politik, ekonomi, budaya, dan peradaban yang mampu membangun persatuan di tengah keberagaman.
Selanjutnya, sahabat Utsman bin Affan mengusulkan agar Muharram ditetapkan sebagai bulan pertama dalam kalender Islam. Setelah melalui berbagai pertimbangan, Khalifah Umar bin Khattab menyetujui usulan tersebut. Sejak saat itulah lahir Kalender Hijriyah yang hingga hari ini telah berusia 1448 tahun dan digunakan oleh umat Islam di seluruh dunia.
Kalender Hijriyah merupakan salah satu warisan intelektual dan peradaban Islam yang sangat berharga. Ia bukan hanya alat penanda waktu, tetapi juga simbol kemampuan umat Islam dalam membangun sistem sosial dan administrasi yang teratur.
Dalam konteks kehidupan modern, kita perlu memandang Kalender Hijriyah secara proporsional. Kalender Hijriyah dan Kalender Miladiyah sesungguhnya memiliki fungsi dan ruang historisnya masing-masing. Keduanya adalah produk peradaban manusia yang lahir dari kebutuhan sosial dan budaya yang berbeda.
Di Indonesia, umat Islam menggunakan Kalender Hijriyah untuk ibadah dan berbagai momentum keagamaan seperti Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, dan ibadah haji. Sementara Kalender Miladiyah digunakan dalam administrasi negara, pendidikan, ekonomi, dan kehidupan sosial sehari-hari. Karena itu, tidak tepat jika muncul pandangan yang mempertentangkan keduanya secara ekstrem dengan narasi bahwa yang satu adalah “kalender Islam” dan yang lain adalah “kalender kafir”. Sikap seperti itu justru mengabaikan substansi ajaran Islam yang menghargai ilmu pengetahuan, kemaslahatan, dan kemajuan peradaban.
Lalu, apa makna Hijrah bagi kita hari ini?
Hijrah yang paling penting bukanlah perpindahan tempat, tetapi perpindahan kualitas diri. Hijrah adalah transformasi menuju kehidupan yang lebih baik. Hijrah adalah keberanian meninggalkan kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik. Hijrah adalah upaya terus-menerus memperbaiki kualitas keimanan, memperkuat syariah, dan menyempurnakan akhlak mulia.
Spirit hijrah juga mengajarkan pentingnya persatuan dan persaudaraan. Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah, langkah pertama yang dilakukan bukan membangun kekuatan politik, melainkan membangun ukhuwah dan solidaritas sosial. Karena itu, semangat hijrah harus diwujudkan dalam upaya menjauhkan diri dari berbagai potensi perpecahan, ujaran kebencian (hate speech), fitnah, intoleransi, serta berbagai bentuk konflik yang merusak persaudaraan kebangsaan dan kemanusiaan.
Lebih dari itu, hijrah juga berarti meninggalkan praktik-praktik yang merusak kehidupan bersama seperti korupsi, manipulasi, penyalahgunaan jabatan, serta berbagai bentuk ketidakjujuran yang menggerogoti sendi-sendi bangsa.
Momentum Tahun Baru 1448 Hijriyah hadir ketika umat Islam dan masyarakat dunia sedang menghadapi berbagai goncangan besar (multiple shocks). Kita menyaksikan goncangan keagamaan (theology shock), goncangan budaya (cultural shock), goncangan ekonomi (economic shock), goncangan politik (political shock), dan goncangan teknologi (technological shock). Perubahan berlangsung begitu cepat sehingga sering kali melampaui kemampuan manusia untuk beradaptasi.
Di Indonesia, masyarakat juga menghadapi berbagai dinamika kebijakan publik yang terus berkembang, termasuk berbagai perdebatan dan harapan terkait program-program strategis nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Semua itu menunjukkan bahwa kehidupan modern menuntut kemampuan adaptasi, kebijaksanaan, dan ketahanan sosial yang semakin kuat.
Dalam situasi seperti ini, spirit hijrah menjadi semakin relevan. Hijrah mengajarkan optimisme di tengah ketidakpastian, persatuan di tengah perbedaan, integritas di tengah godaan, serta harapan di tengah berbagai tantangan.
Karena itu, peringatan Tahun Baru 1 Muharram 1448 Hijriyah hendaknya tidak berhenti pada seremonial dan pergantian angka tahun semata. Momentum ini harus menjadi energi spiritual dan sosial untuk melakukan hijrah kolektif menuju kehidupan yang lebih bermakna; hijrah dari kebencian menuju kasih sayang, dari perpecahan menuju persatuan, dari kemalasan menuju produktivitas, dari ketertinggalan menuju kemajuan, dan dari sekadar menjadi umat yang besar secara jumlah menuju umat yang unggul dalam kualitas.
Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah.
Semoga Allah SWT membimbing langkah-langkah hijrah kita, memperkuat persaudaraan kemanusiaan, meneguhkan integritas kebangsaan, serta menghadirkan keberkahan bagi Indonesia dan dunia.
Hijrah bukan sekadar migrasi secara geografis, tetapi berpindah menjadi pribadi, masyarakat, dan bangsa yang lebih baik.
Makassar,
1 Muharram 1448 H./16 Juni 2026 M.












