News  

Akibat Cuaca Mendung, Pemantauan Hilal di Makassar Tak Terlihat

SULSELNEWS.NET —Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan melaksanakan rukyatul hilal penetapan 1 Zulhijah 1447 Hijriah pada Minggu, 17 Mei 2026, di Gedung Menara Iqra Lantai 18 Universitas Muhammadiyah Makassar.

Kegiatan pemantauan hilal tingkat Provinsi Sulawesi Selatan ini dihadiri Kepala Kanwil Kemenag Sulsel H. Ali Yafid, serta sejumlah tokoh agama.

Sejak sore hari, tim rukyat bersama unsur BMKG, Pengadilan Agama, dan Badan Hisab Rukyat Sulsel melakukan pemantauan intensif ke arah ufuk barat. Namun cuaca Kota Makassar yang diselimuti awan tebal membuat hilal tidak berhasil terlihat hingga batas akhir pengamatan.

Kepala Kanwil Kemenag Sulsel H. Ali Yafid menjelaskan, secara astronomi posisi hilal sebenarnya telah memenuhi syarat imkanur rukyat yang ditetapkan pemerintah dan negara-negara MABIMS.

“Berdasarkan hasil perhitungan dan pemantauan bersama BMKG serta tim hisab rukyat Sulawesi Selatan, tinggi hilal sebenarnya sudah memenuhi syarat. Untuk kriteria MABIMS juga sudah terpenuhi karena berada di atas 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat,” jelas Ali Yafid.

Ia menyebutkan, berdasarkan data BMKG tinggi hilal berada di angka 4,32 derajat, sedangkan hasil perhitungan Badan Hisab Rukyat Sulsel berada pada posisi 4,20 derajat. Sementara matahari terbenam pada pukul 17.54.50 Wita.

Meski secara data astronomi peluang terlihatnya hilal cukup besar, kondisi cuaca menjadi kendala utama dalam proses rukyat di Makassar.

“Kendala kita di Sulawesi Selatan hari ini adalah cuaca. Kota Makassar sejak sore hingga pukul 18.20 Wita tertutup awan tebal sehingga hilal tidak terlihat,” ujarnya.

Ali Yafid menegaskan, berdasarkan hasil pemantauan rukyatul hilal yang dilaksanakan di lantai 18 Menara Iqra Unismuh Makassar dan keputusan Pengadilan Agama Makassar, hilal dinyatakan tidak terlihat di wilayah Sulawesi Selatan.

“Dari hasil pemantauan dan keputusan Pengadilan Agama Kota Makassar itulah yang kemudian akan kita laporkan kepada pemerintah pusat sebagai bahan sidang isbat penentuan 1 Zulhijah 1447 Hijriah,” tambahnya.

Sementara itu, Rektor Unismuh Makassar Abd. Rakhim Nanda menyampaikan apresiasi atas kepercayaan Kementerian Agama yang kembali menjadikan observatorium Unismuh sebagai lokasi rukyatul hilal tingkat Sulsel.

“Alhamdulillah, observatorium Unismuh Makassar kembali dipercaya menjadi lokasi pelaksanaan rukyatul hilal yang diselenggarakan Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan. Ini menjadi bentuk sinergi yang baik antara perguruan tinggi dan Kementerian Agama dalam pelayanan keagamaan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, keberadaan observatorium di Unismuh memungkinkan proses pemantauan hilal dilakukan secara maksimal.

“Di Unismuh kami memiliki fasilitas observatorium yang mendukung proses rukyat. Kami hanya memfasilitasi dan menjadi tuan rumah, sementara pelaksanaan rukyat dilakukan oleh Kementerian Agama bersama tim hisab rukyat dan BMKG,” jelasnya.

Menurut Abd. Rakhim Nanda, secara astronomi posisi hilal di Makassar sebenarnya telah memenuhi kriteria imkanur rukyat MABIMS.

“Kalau melihat data hari ini, tinggi hilal di wilayah Makassar sudah berada di kisaran 4 derajat dengan sudut elongasi di atas 9 derajat. Secara kriteria MABIMS ini sudah memenuhi syarat imkanur rukyat,” tuturnya.

Di sisi lain, Ketua Tim Kerja Geofisika BMKG Sulsel R. Jamroni menyampaikan bahwa secara umum posisi hilal di Indonesia telah memenuhi syarat visibilitas.

“Secara data astronomi, ketinggian hilal dari wilayah barat sampai timur Indonesia positif. Bahkan yang tertinggi berada di Aceh sekitar 7 derajat. Namun khusus Sulawesi Selatan, hilal tidak terlihat karena kondisi alam dan tutupan awan yang cukup tebal,” jelasnya.

Kepala Bidang Urais Kanwil Kemenag Sulsel H. Abd. Gaffar menambahkan, rukyatul hilal bukan sekadar proses astronomi, tetapi bagian dari pelayanan keagamaan pemerintah kepada masyarakat.

“Kita mengedepankan sinergi antara ilmu falak, data astronomi, dan hasil rukyat lapangan agar keputusan yang diambil memiliki dasar yang kuat dan dapat diterima bersama,” katanya.

Meski hilal tidak berhasil terlihat di Makassar akibat cuaca mendung, pelaksanaan rukyatul hilal di Menara Iqra Unismuh Makassar tetap berlangsung khidmat dan menjadi simbol kolaborasi antara pemerintah, akademisi, ulama, dan lembaga sains dalam mengawal penetapan kalender hijriah di Indonesia.( Chandra )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *