SULSELNEWS.NET —Petugas Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, melakukan evakuasi cincin emas yang tersangkut di jari tangan seorang bocah perempuan berusia 11 tahun.
Proses pelepasan cincin berlangsung dramatis karena korban, Nada Fajria, terus merintih dan berteriak kesakitan saat petugas mulai memotong cincin yang menyebabkan jarinya membengkak.
Evakuasi dilakukan di Kantor Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Gowa menggunakan mesin gerinda khusus. Petugas rescue harus bekerja ekstra hati-hati agar proses pemotongan cincin tidak melukai jari korban.
Selama proses evakuasi, Nada terlihat kesakitan akibat kondisi jarinya yang terus membengkak. Petugas kemudian menyisipkan pelindung di antara cincin dan kulit jari sebelum melakukan pemotongan secara perlahan.
Setelah sekitar 30 menit melakukan penanganan, petugas akhirnya berhasil melepaskan cincin emas tersebut dari jari korban.
Nada pun tampak lega dan senang setelah cincin yang membuat jarinya membengkak berhasil dilepaskan tanpa menimbulkan luka serius.
Menurut keterangan keluarga, sebelumnya kedua orang tua korban telah berupaya melepaskan cincin secara manual. Namun upaya tersebut tidak berhasil dan justru membuat jari anak mereka semakin membengkak. Karena khawatir kondisi korban memburuk, keluarga akhirnya membawa Nada ke Kantor Damkar Kabupaten Gowa untuk mendapatkan bantuan.
Kepala Bidang Penyelamatan Damkar Kabupaten Gowa, Syamsul Bahri, mengatakan proses evakuasi dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menghindari cedera pada korban.
“Kami melakukan pemotongan cincin menggunakan gerinda mini dengan sangat hati-hati karena kondisi jari korban sudah membengkak. Alhamdulillah cincin berhasil dilepas tanpa melukai jari anak tersebut,” ujarnya.
Ia juga mengimbau para orang tua agar lebih memperhatikan penggunaan aksesori pada anak-anak.
“Kami mengimbau kepada para orang tua agar lebih berhati-hati memakaikan aksesori kepada anak, terutama cincin yang ukurannya tidak sesuai karena dapat menimbulkan risiko seperti ini dan membutuhkan penanganan khusus,” kata Syamsul Bahri.












