SULSELNEWS.NET — Pemerintah Kabupaten Gowa menggelar Fokus Grup Diskusi (FGD) untuk membahas strategi penuntasan kemiskinan ekstrem berkolaborasi dengan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sulawesi Selatan.
Kegiatan ini menjadi ruang bersama untuk mencari solusi konkret serta merumuskan langkah terarah dalam menekan angka kemiskinan.
FGD berlangsung di Baruga Tinggimae, Rumah Jabatan Bupati Gowa, Kecamatan Somba Opu, Rabu (18/3/2026).
Diskusi menghadirkan Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang dan akademisi UIN Alauddin Makassar, Prof Dr Muhaemin Latif sebagai narasumber, serta dipandu oleh fasilitator Bahtiar M A Saleh.
Sejumlah pihak turut hadir, dari perwakilan Lacak, Dinas PMD Gowa, Dinas Koperasi, Bappenda, pendamping desa hingga penerima manfaat dari kategori miskin ekstrem.
Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, menegaskan pengentasan kemiskinan ekstrem menjadi prioritas utama dalam mendorong kemajuan daerah.
“Kalau kita bicara Gowa maju, tentu tidak bisa dilepaskan dari persoalan kemiskinan,” ujarnya.
Ia mengaku, setelah menjabat sebagai kepala daerah, salah satu hal yang menjadi perhatian adalah indikator kemajuan yang tidak hanya dilihat dari pembangunan fisik semata.
“Selama ini orang melihat gedung tinggi, jalan bagus, sarana sekolah. Tapi yang sering dilupakan adalah sumber daya manusia sebagai kunci utama kemajuan daerah,” jelasnya.
Menurutnya, pembangunan harus berjalan seimbang, namun langkah paling mendasar dalam menekan kemiskinan ekstrem adalah memastikan ketersediaan data yang valid.
“Supaya saya tahu apa yang akan saya lakukan,” tambahnya.
Husniah juga memaparkan kondisi pertumbuhan ekonomi Gowa dalam beberapa tahun terakhir yang mengalami fluktuasi.
Ia menyebut, terjadi penurunan pada 2021 hingga 2022 akibat rendahnya daya beli masyarakat.
“Pertumbuhan ekonomi kembali naik pada 2023 sebesar 5,82 persen, kemudian sempat turun lagi di 2024,” ungkapnya.
Dari kondisi tersebut, Pemkab Gowa terus mencari akar persoalan, salah satunya dengan fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya di sektor ekonomi.
“Kalau begitu, kita harus meningkatkan SDM, terutama untuk menekan kemiskinan agar tidak menjadi penghambat kemajuan Gowa,” tegasnya.
Ia menambahkan, melalui gerakan “Gowa Maju” dengan fokus pengentasan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi daerah pada 2025 mampu melampaui rata-rata Provinsi Sulawesi Selatan dan nasional.
Ekonomi Gowa mencatat lonjakan tajam pada tahun 2025 yakni 7,04 persen melampaui capaian Sulsel 5,43 persen dan nasional 5,11 persen.
Tingkat kemiskinan Kabupaten Gowa secara konsisten berada di bawah rata-rata Provinsi Sulawesi Selatan selama periode 2021-2025.
Setelah sempat mengalami fluktuasi pasca-pandemi (2022-2023), angka kemiskinan Gowa menunjukkan tren penurunan tajam dari 7,42 persen (2023) menjadi 6,64 persen pada tahun 2025.
Penurunan sebesar 0,78 poin persentase dalam dua tahun terakhir (2023-2025) menunjukkan bahwa program intervensi mulai menunjukkan dampak nyata dan terkonvergensi dengan baik.
Sementara itu, Prof Muhaemin Latif mengungkapkan bahwa di Gowa terdapat sekitar 1.000 keluarga miskin ekstrem. Namun, ia menekankan bahwa kemiskinan tidak hanya dilihat dari aspek ekonomi semata.
“Kemiskinan juga mencakup keterbatasan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya. Jadi indikatornya tidak bisa satu faktor saja,” jelasnya.
Ia menambahkan, masyarakat miskin ekstrem kerap terpinggirkan dan baru diperhatikan dalam momentum tertentu, seperti pesta demokrasi.
Menurutnya, ada sejumlah faktor yang memicu kemiskinan, di antaranya kepemimpinan yang lemah dalam kepedulian sosial, ketimpangan distribusi sumber daya, serta tata kelola pemerintahan yang belum optimal.
“Korupsi dan lemahnya good governance menjadi penghambat utama kebijakan berjalan efektif,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menyoroti adanya diskriminasi struktural yang membuat kebijakan ekonomi belum sepenuhnya berpihak pada kelompok rentan.
Ketua IJTI Sulsel, Andi Mohammad Sardi, turut mengapresiasi langkah kolaboratif antara Pemerintah Kabupaten Gowa dan IJTI Sulawesi Selatan dalam program “Gowa Maju: Gerak Bersama Hapus Miskin Ekstrem”.
“Sinergi ini mencerminkan komitmen bersama dalam menghadirkan solusi yang terarah dan berkelanjutan bagi masyarakat,” katanya.
Ia menilai, peran media sangat strategis dalam menyampaikan informasi yang akurat, edukatif, dan berimbang kepada publik, sekaligus mengawal kebijakan agar berjalan transparan dan tepat sasaran.
“Kami berharap keterlibatan ini mampu meningkatkan kesadaran publik dan mendorong partisipasi seluruh elemen masyarakat dalam menekan angka kemiskinan ekstrem di Gowa,” pungkasnya.












