Dorong Produktivitas Petani Soppeng, UIM dan UNM Terapkan Biogas dan Eco-Farming di Gattareng

SULSELNEWS.NET — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Islam Makassar (UIM) bersama Universitas Negeri Makassar (UNM) terus mendorong kemandirian energi dan pertanian berkelanjutan di Desa Gattareng, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.

Program tersebut diwujudkan melalui penerapan teknologi biogas dan eco-farming bersama Kelompok Tani Jampue. Hingga 17 Agustus 2026, progres pembangunan instalasi biogas dan renovasi kandang percontohan telah mencapai 70 persen.

Program yang didanai melalui hibah Direktorat Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Tahun Anggaran 2026 ini dipimpin Dr. Ir. Helda Ibrahim, SP., M.Si., bersama Dr. Ir. Asir, M.Si. dari UIM dan Prof. Dr. Ir. Ahmad Rifqi Asrib, M.T. dari UNM.

Tim akademisi bersama Kelompok Tani Jampue saat ini merampungkan pembangunan digester biogas tipe fixed dome berkapasitas 4 meter kubik. Penataan ulang kandang ternak juga dilakukan agar lebih higienis serta terintegrasi dengan sistem penampungan limbah ternak.

Ketua Pelaksana PKM UIM, Dr. Helda Ibrahim, mengatakan pembangunan fisik instalasi saat ini telah mencapai 70 persen.

“Alhamdulillah, berkat partisipasi aktif masyarakat, tahap pembangunan fisik saat ini sudah mencapai 70%,” papar Dr. Helda Ibrahim.

Menurutnya, pekerjaan yang tersisa sekitar 30 persen meliputi tahap akhir fisik, perbaikan drainase kandang, serta pemasangan jaringan perpipaan gas menuju dapur-dapur warga.

Ubah Limbah Ternak Jadi Energi dan Pupuk Organik

Penerapan teknologi biogas di Gattareng tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan energi terbarukan. Kotoran ternak yang selama ini berpotensi menjadi sumber pencemaran akan dimanfaatkan melalui proses fermentasi di dalam digester.

Dari proses tersebut, nantinya akan dihasilkan bioslurry, yakni produk sampingan yang kaya nutrisi dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Pemanfaatan bioslurry menjadi bagian dari konsep ecofarming atau pertanian ramah lingkungan. Dengan sistem tersebut, masyarakat diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sintetis sekaligus menekan biaya produksi pertanian.

Program ini juga diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan warga terhadap penggunaan gas LPG, sekaligus memberikan solusi terhadap persoalan limbah ternak yang selama ini menjadi tantangan di lingkungan peternakan.

Petani Terlibat dari Awal hingga Pembangunan

Keberhasilan pembangunan instalasi hingga mencapai 70 persen tidak terlepas dari keterlibatan masyarakat melalui pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA).

Anggota Kelompok Tani Jampue di bawah koordinasi Haeruddin dilibatkan secara langsung mulai dari sosialisasi, pemetaan area, pembangunan digester hingga perbaikan kandang.

Seluruh tahapan tersebut dilakukan secara gotong royong antara tim dosen dan masyarakat.

Selain menyelesaikan pembangunan fisik, tim UIM dan UNM juga menyiapkan modul edukasi serta pendampingan bagi para peternak.

Warga nantinya akan mendapatkan pelatihan mengenai pengoperasian harian digester, tata kelola sanitasi kandang hingga pengembangan kewirausahaan untuk mengolah dan mengomersialkan pupuk organik berbahan bioslurry.

Ditargetkan Jadi Percontohan Desa Mandiri Energi

Dengan progres pembangunan yang dinilai berjalan sesuai target, tim pengabdian optimistis instalasi percontohan tersebut segera rampung dan dapat dimanfaatkan masyarakat.

Ke depan, instalasi biogas Kelompok Tani Jampue diharapkan menjadi best practice yang dapat direplikasi di desa-desa sekitar.

Program tersebut diharapkan turut mendorong ketahanan pangan sekaligus memperkuat upaya mewujudkan desa mandiri energi di Kabupaten Soppeng.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *