Teknologi UNM Bantu Petani Jagung Takalar Pangkas Beban Kerja dan Tingkatkan Nilai Jual

SULSELNEWS.NET– Tim pengabdi dari Universitas Negeri Makassar (UNM) menghadirkan inovasi teknologi bagi petani jagung di Desa Bonto Mangape, Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Program pemberdayaan masyarakat tersebut menyasar Kelompok Tani Borong Taipaya yang selama ini menghadapi kendala dalam proses pascapanen, khususnya pemipilan jagung yang masih dilakukan secara manual.

Desa Bonto Mangape merupakan salah satu sentra jagung di Kabupaten Takalar. Sekitar 70 persen masyarakat setempat menggantungkan kehidupan sebagai petani jagung.

Namun, kondisi geografis wilayah pertanian yang berada di kawasan perbukitan membuat proses pengangkutan dan pengolahan hasil panen menjadi tantangan tersendiri.

Petani harus memikul hasil panen dari lahan yang sulit dijangkau kendaraan. Setelah itu, jagung dipipil secara manual menggunakan tangan atau alat sederhana yang dibuat dari gerigi ban bekas.

Ketua Tim Pengabdi UNM, Syafiuddin P., mengatakan kondisi tersebut membuat proses pascapanen membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup besar.

“Petani merasa kesulitan karena proses pemipilan manual membutuhkan waktu lama dan tenaga yang besar. Akibatnya, 75 persen jagung dijual dalam keadaan belum dipipil dengan harga yang lebih rendah,” ungkap Syafiuddin P.

Melihat persoalan tersebut, tim pengabdi UNM memperkenalkan mesin pemipil jagung mobile yang dirancang agar lebih praktis dan sesuai dengan kondisi petani di wilayah perbukitan.

Melalui program ini, petani tidak hanya menerima bantuan mesin, tetapi juga mendapatkan pelatihan teknis. Mereka diajarkan mulai dari merakit rangka, memasang motor penggerak, hingga melakukan perawatan mesin secara mandiri.

Teknologi tersebut diharapkan dapat memangkas waktu dan beban kerja petani saat memasuki masa panen. Dengan proses pemipilan yang lebih cepat, petani juga memiliki peluang menjual jagung dalam bentuk pipilan yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Tongkol Jagung Diubah Jadi Briket

Program UNM tidak berhenti pada mekanisasi proses pemipilan. Tim pengabdi juga memperkenalkan teknologi pengolahan limbah tongkol jagung menjadi briket arang.

Selama ini, tongkol jagung yang tersisa setelah proses pemipilan cenderung menjadi limbah dan dibiarkan berserakan di sekitar lingkungan pertanian.

Melalui pelatihan tersebut, petani diberikan pengetahuan untuk mengolah tongkol jagung menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus lebih ramah lingkungan.

Syafiuddin mengatakan inovasi tersebut diharapkan dapat membuka peluang pendapatan tambahan bagi masyarakat desa.

“Program ini sejalan dengan target SDG’s untuk menyediakan pekerjaan layak dan mendorong pertumbuhan ekonomi desa,” tambahnya.

Dengan adanya mesin pemipil jagung mobile dan teknologi pengolahan briket, petani diharapkan mampu mengoptimalkan hasil panen sekaligus memanfaatkan limbah pertanian.

Kegiatan tersebut melibatkan 24 anggota Kelompok Tani Borong Taipaya. Program juga mendapat dukungan dari LP2M UNM sebagai bagian dari upaya mendorong penerapan hasil riset dan inovasi dosen agar memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Tim pengabdi UNM yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri atas Syafiuddin P. selaku ketua, bersama Muhammad Iskandar Musa dan Wabdillah.

Ke depan, inovasi mekanisasi pemipilan dan pengolahan limbah tersebut diharapkan dapat menjadi model bagi desa-desa lain, khususnya wilayah perbukitan yang memiliki potensi komoditas jagung.

Dengan teknologi yang tepat, petani tidak hanya dapat mengurangi beban kerja dan waktu pengolahan, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian serta mengubah limbah menjadi sumber pendapatan baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *