Dua Bulan Disandera Perompak Somalia, Empat Pelaut Indonesia Belum Bebas

SULSELNEWS.NET – Genap dua bulan sejak disandera kelompok perompak di perairan Somalia, empat warga negara Indonesia yang bekerja di kapal tanker minyak MT Honour 25 dilaporkan masih belum berhasil dibebaskan. Kondisi para sandera disebut semakin memprihatinkan akibat keterbatasan makanan, air bersih, hingga tekanan psikologis yang berkepanjangan.

Salah satu keluarga korban di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, mengaku hingga saat ini belum mendapatkan kejelasan terkait proses pembebasan dari pihak perusahaan maupun perkembangan negosiasi yang dilakukan. Mereka berharap pemerintah Indonesia dapat mengambil langkah konkret agar para pelaut segera kembali ke tanah air dengan selamat.

Sebuah video yang memperlihatkan kondisi para awak kapal MT Honour 25 kembali beredar. Dalam rekaman tersebut, para kru tampak berada di dalam kapal sambil menunjukkan kondisi persediaan makanan dan air minum yang disebut sudah sangat terbatas.

Kapten kapal, Azhari Samadikun, warga Kabupaten Gowa, terlihat menyampaikan kondisi para kru yang disandera sejak 21 April 2026. Dalam video tersebut, ia memohon bantuan pemerintah Indonesia untuk mempercepat upaya pembebasan para sandera.

“Kondisi kami semakin memprihatinkan. Beberapa kru mulai sakit, makanan dan air bersih sudah sangat terbatas. Kami memohon bantuan pemerintah Indonesia agar segera dibebaskan,” ujar Azhari Samadikun dalam rekaman video yang beredar.

Menurut Azhari, sejumlah awak kapal, termasuk tiga pelaut asal Indonesia, mulai mengalami gangguan kesehatan. Selain itu, persediaan makanan dan air bersih di atas kapal disebut telah menipis sehingga para kru terpaksa mengonsumsi air yang kondisinya tidak layak.

Sementara itu, ayah Azhari, Syamsuddin Ngawing, yang tinggal di Dusun Moncong Loe, Desa Paccellekang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, mengungkapkan bahwa penyanderaan yang dialami anaknya kini telah memasuki bulan kedua.

Syamsuddin mengaku sudah sekitar tiga minggu terakhir tidak dapat berkomunikasi dengan sang anak. Informasi yang diterimanya menyebut kondisi para awak kapal semakin memprihatinkan akibat keterbatasan logistik selama masa penyanderaan.

“Sudah sekitar tiga minggu saya tidak bisa berkomunikasi dengan anak saya. Kami berharap pemerintah segera turun tangan agar seluruh sandera, khususnya pelaut Indonesia, bisa pulang dengan selamat,” kata Syamsuddin.

Ia berharap pemerintah Indonesia, termasuk Presiden Prabowo Subianto dan DPR RI, dapat segera mengambil langkah yang diperlukan untuk membantu pembebasan para sandera yang masih ditahan kelompok perompak bersenjata di Somalia.

Selain itu, keluarga korban juga menyoroti minimnya tanggung jawab dari pihak perusahaan pemilik kapal MT Honour 25 yang berbendera Uni Emirat Arab dalam menangani nasib para awak kapal yang hingga kini masih berada dalam penyanderaan.

Dengan telah genap dua bulan penyanderaan berlangsung, keluarga para korban kini hanya bisa menunggu kepastian sembari berharap pemerintah Indonesia dapat mengupayakan pembebasan para pelaut tersebut secepat mungkin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *