SULSELNEWS.NET – Setelah berhasil meraih juara pertama pada Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Sulawesi Selatan, SMAN 5 Makassar kini mempersiapkan diri menghadapi kompetisi tingkat nasional yang akan digelar di Jakarta.
Kepala SMAN 5 Makassar, Dr. Sudirman Kadir, mengatakan tim yang akan berlaga di tingkat nasional saat ini menjalani masa karantina dengan pembatasan aktivitas agar seluruh fokus tertuju pada latihan.
Menurutnya, para peserta tidak diperkenankan mengikuti kegiatan lain di luar agenda persiapan menuju final nasional.
“Seluruh waktu difokuskan untuk mengevaluasi penampilan saat tingkat provinsi, mulai dari babak estafet, tematik, hingga babak rebutan,” ujar Sudirman, Jumat (26/6).
Ia menjelaskan, seluruh kekurangan yang ditemukan sejak babak penyisihan hingga final menjadi bahan evaluasi untuk diperbaiki secara intensif.
Salah satu strategi yang diterapkan yakni pembagian materi sesuai keahlian masing-masing peserta. Dengan pola itu, setiap anggota tim bertanggung jawab mendalami bidang tertentu agar penguasaan materi lebih maksimal.
“Misalnya ada 100 materi atau soal, maka setiap peserta fokus menguasai bagian tertentu. Ada yang mendalami Pancasila, UUD, MPR, dan materi lainnya,” jelasnya.
Strategi tersebut diharapkan membuat peserta lebih cepat mengambil keputusan saat memasuki babak rebutan.
Selain itu, tim juga mempelajari ulang seluruh pertandingan final LCC Empat Pilar dari berbagai provinsi di Indonesia untuk membaca pola soal yang sering muncul.
“Kami mencermati pola pertanyaan yang dibacakan pembawa acara. Anak-anak dilatih mengenali kata-kata awal dari sebuah soal agar bisa mengantisipasi jawaban lebih cepat,” katanya.
Tak hanya penguatan materi, pembinaan mental juga menjadi perhatian utama.
Sudirman mengakui salah satu tantangan yang masih dihadapi tim adalah menjaga kestabilan mental saat pertandingan berlangsung.
“Ketika lawan mulai memperoleh poin, terkadang konsentrasi peserta ikut terganggu. Karena itu kami terus menanamkan kepercayaan diri, disiplin mengikuti arahan pembimbing, dan menjaga fokus selama lomba,” ungkapnya.
Ia menekankan kepada para siswa agar tidak terpaku pada perolehan nilai lawan dan tetap fokus pada soal yang sedang dibacakan.
“Benar atau salahnya jawaban lawan bukan fokus utama. Yang penting adalah kesiapan menjawab soal berikutnya,” pesannya.
Sementara itu, guru pendamping Suhartini Nasir, S.Pd menyebut persiapan menuju tingkat nasional kini diarahkan pada penguatan aspek yang masih menjadi kelemahan tim.
Menurutnya, perhatian utama saat ini tertuju pada babak tematik yang menuntut kemampuan analisis, berpikir cepat, berpikir kritis, dan menyusun solusi.
“Selama dua minggu efektif, latihan tematik dijadwalkan satu kali setiap pekan,” ujarnya.
Ia juga menilai sesi rebutan menjadi penentu penting dalam kompetisi sehingga latihan lebih banyak difokuskan pada pembiasaan menghadapi soal cepat.
“Anak-anak dilatih memahami kapan harus memotong soal dan kapan menunggu soal selesai dibacakan. Jadi bukan hanya akurasi, tetapi kecepatan juga menjadi faktor penting,” katanya.
Menurut Suhartini, tantangan terbesar tim saat ini masih berada pada kemampuan membangun argumentasi di babak tematik.
Untuk mengatasinya, tim memperbanyak latihan berbasis mosi agar peserta terbiasa menganalisis persoalan dan menyusun argumentasi dari berbagai sudut pandang.
“Latihan mosi diperbanyak supaya anak-anak terbiasa membedah setiap mosi dan menyusun argumentasi masing-masing,” ujarnya.
Terkait peluang di tingkat nasional, Suhartini menilai seluruh kontestan dari 38 provinsi memiliki kesempatan yang sama.
“Semua punya peluang yang sama. Mudah-mudahan, jika Allah berkehendak dan memberikan kesempatan, kami bisa merasakan tampil di panggung tiga besar,” harapnya.












