Opini  

Kartini, Sport Science, dan Hutang Pendidikan Kita pada Tubuh Perempuan

Oleh :Ramli, (Dosen PenjasKesRek FIKK UNM, Pelatih Sepak Takraw Nasional)

SULSELNEWS.NET —Indonesia memperingati Hari Kartini setiap tahun dengan khidmat. Namun di balik seremoni itu, ada sebuah paradoks yang jarang kita bahas terang-terangan: kita mengklaim mewarisi semangat Kartini tentang pendidikan perempuan, sementara dalam satu bidang ilmu yang sangat mendasar — pemahaman ilmiah tentang tubuh perempuan sendiri — sistem kita masih jauh dari tuntas.

Bidang itu adalah sport science: ilmu olahraga, fisiologi latihan, dan nutrisi berbasis gender. Dan ketimpangan akses perempuan terhadap ilmu ini bukan sekadar isu akademis. Ini adalah masalah kesehatan publik, masalah prestasi olahraga nasional, dan — jika kita mau jujur — masalah keadilan pendidikan yang belum terselesaikan.

Bias Pria dalam Ilmu Olahraga

Selama puluhan tahun, sport science global dibangun di atas fondasi yang bias. Mayoritas penelitian fisiologi olahraga menggunakan subjek pria. Standar kebugaran, panduan nutrisi, dan protokol latihan yang kemudian diadopsi secara luas — termasuk di Indonesia — dirancang dengan tubuh pria sebagai norma universal.

Perempuan, dalam paradigma ini, diperlakukan sebagai “pria yang lebih kecil.” Kebutuhan kalori diturunkan secara proporsional. Program latihan dikurangi intensitasnya. Dan keunikan fisiologis perempuan — siklus hormonal, kebutuhan zat besi yang berbeda, respons terhadap latihan beban yang spesifik, dinamika ligamen yang dipengaruhi estrogen — diabaikan sebagai variabel yang terlalu rumit untuk dimasukkan ke dalam panduan umum.

Konsekuensinya kita tanggung hari ini. Angka cedera ligamen anterior cruciate (ACL) pada atlet perempuan empat hingga enam kali lebih tinggi dari atlet pria — sebagian besar karena program latihan pencegahan yang digunakan tidak dirancang dengan mempertimbangkan pengaruh hormonal pada kelenturan ligamen. Sindrom Relative Energy Deficiency in Sport (RED-S) — kondisi berbahaya akibat ketidakseimbangan asupan dan kebutuhan energi atlet — secara tidak proporsional menyerang atlet perempuan, dengan dampak pada kesehatan tulang, fungsi hormonal, dan performa jangka panjang.

Dan yang lebih memprihatinkan: sebagian besar atlet perempuan Indonesia tidak tahu bahwa kondisi ini ada, apalagi bagaimana mencegahnya.

Masalah Sistemik, Bukan Individual

Mudah untuk menyederhanakan ini sebagai masalah “kurangnya kesadaran.” Tapi ini adalah masalah sistemik yang jauh lebih dalam.

Kurikulum pendidikan jasmani di Indonesia — dari SD hingga perguruan tinggi — belum secara serius mengintegrasikan perspektif gender dalam ilmu olahraga. Program studi keolahragaan di berbagai universitas kita masih lebih banyak mengacu pada literatur yang berbasis fisiologi pria. Pelatih tim nasional cabang olahraga perempuan — bahkan di tingkat SEA Games dan Asian Games — masih banyak yang tidak dibekali pemahaman mendalam tentang female athlete health sebagai bidang yang berdiri sendiri.

Hasilnya: atlet-atlet perempuan Indonesia berlatih keras dengan kerangka ilmu yang tidak sepenuhnya dirancang untuk mereka. Mereka lebih cepat mengalami overtraining, lebih rentan terhadap cedera spesifik, dan lebih sering menghadapi gangguan kesehatan yang sebenarnya bisa dicegah dengan pengetahuan yang tepat.

Ini bukan tentang kemampuan atau dedikasi atlet. Ini tentang sistem yang berhutang pada mereka.

Membaca Kartini Secara Strategis

Di sinilah relevansi Kartini menjadi sangat konkret. Perjuangan Kartini, dalam inti terdalam, adalah tentang hak perempuan atas ilmu pengetahuan — hak untuk tidak dijauhkan dari pemahaman yang memungkinkan mereka menguasai dunia dan diri mereka sendiri.

Hari ini, “dunia” itu termasuk laboratorium sport science. “Diri mereka sendiri” itu termasuk tubuh mereka yang bekerja menurut hukum-hukum fisiologi yang kini sudah kita pahami jauh lebih baik — jika kita mau membaginya secara adil.

Perempuan yang memahami siklus hormonal mereka bisa merancang program latihan yang lebih efektif dan lebih aman. Perempuan yang paham kebutuhan nutrisi spesifik tubuhnya — kebutuhan zat besi yang meningkat akibat menstruasi, kebutuhan kalsium dan vitamin D untuk kesehatan tulang jangka panjang, kebutuhan protein untuk mempertahankan massa otot — bisa menjaga kesehatannya jauh lebih baik dari yang selama ini mereka lakukan dengan informasi seadanya.

Ini bukan tentang membuat perempuan menjadi atlet semua. Ini tentang memberikan kepada setiap perempuan Indonesia pemahaman dasar tentang tubuhnya sendiri — sebagaimana Kartini percaya bahwa setiap perempuan berhak atas pendidikan dasar tentang dirinya dan dunianya.

Tiga Agenda Kebijakan yang Mendesak

Jika pemerintah, khususnya Kemenpora, serius menjadikan peringatan Kartini sebagai momentum transformasi nyata, ada tiga agenda yang tidak bisa ditunda.

Pertama, revisi standar kurikulum pendidikan jasmani berbasis gender. Materi yang mengakui kekhasan fisiologi perempuan — mulai dari tingkat SMP hingga perguruan tinggi — perlu dimasukkan sebagai komponen wajib, bukan opsional. Ini termasuk edukasi tentang siklus menstruasi dan performa fisik, manajemen nutrisi untuk perempuan aktif, dan pencegahan cedera berbasis hormonal.

Kedua, sertifikasi kompetensi female athlete health untuk pelatih olahraga. KONI dan federasi olahraga nasional perlu mendorong — dan pada akhirnya mewajibkan — pelatih cabang olahraga perempuan untuk memiliki pemahaman yang terstandar tentang fisiologi dan kebutuhan kesehatan atlet perempuan. Ini investasi langsung pada prestasi olahraga nasional.

Ketiga, demokratisasi akses informasi sport science berbahasa Indonesia. Pengetahuan ini tidak boleh hanya tersimpan di jurnal akademis berbahasa Inggris. Diperlukan program komunikasi publik yang serius — melibatkan ilmuwan olahraga, tenaga kesehatan, dan komunitas — untuk menjadikan sport science perempuan sebagai pengetahuan yang benar-benar populer dan terjangkau.

Prestasi Bangsa Dimulai dari Sini

Indonesia menargetkan peningkatan prestasi olahraga secara konsisten di pentas internasional. Target itu tidak akan tercapai maksimal jika setengah dari populasi potensial kita — perempuan — tidak mendapatkan akses penuh pada ilmu yang memungkinkan mereka mencapai potensi tertinggi mereka.

Dan di luar podium, ada isu yang lebih besar: kesehatan generasi. Perempuan yang memahami tubuh dan nutrisinya akan melahirkan dan membesarkan generasi yang lebih sehat. Investasi pada sport science untuk perempuan adalah investasi pada modal manusia jangka panjang bangsa ini.

Kartini bermimpi tentang perempuan Indonesia yang terdidik, yang bebas, yang mampu berkontribusi penuh bagi bangsanya. Hari ini, salah satu cara paling konkret untuk mewujudkan mimpi itu adalah dengan memastikan ilmu tentang tubuh perempuan — sport science, nutrisi, fisiologi — menjadi milik semua perempuan Indonesia.

Karena perempuan yang memahami tubuhnya sendiri adalah perempuan yang benar-benar merdeka.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *