https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-8135482754179729
News  

Darurat Literasi Al-Qur’an, Menag: 60 Persen Umat Islam Indonesia Masih Buta Huruf

SULSELNEWS.NET —Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar, mengungkap fakta yang menjadi perhatian serius dalam upaya meningkatkan literasi keagamaan di Indonesia.

Menag menyebut sekitar 60 persen umat Islam di Indonesia masih mengalami buta huruf Al-Qur’an. Hal itu disampaikannya saat menghadiri Pembukaan Muktamar V Wahdah Islamiyah di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (22/8/2026).

“Data statistik menunjukkan sekitar 60 persen warga umat Islam di Indonesia masih buta huruf Al-Qur’an. Ini angka yang sangat besar dan menjadi tantangan nyata bagi kita semua,” ujar KH Nasaruddin Umar.

Menurutnya, persoalan literasi Al-Qur’an tersebut tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah. Diperlukan keterlibatan berbagai elemen masyarakat, termasuk organisasi kemasyarakatan Islam yang memiliki jaringan hingga ke berbagai daerah.

“Kementerian Agama tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendirian. Di sinilah pentingnya peran ormas seperti Wahdah Islamiyah sebagai kontributor paling konkret yang menyumbangkan 10 ribu guru ngaji di seluruh Indonesia,” jelasnya.

10 Ribu Guru Qur’an Dikukuhkan

Dalam kesempatan tersebut, Wahdah Islamiyah secara resmi mengukuhkan 10.000 Guru Qur’an yang akan ditugaskan mengajar di berbagai wilayah Indonesia.

Menag mengapresiasi langkah tersebut. Ia mengaku terharu melihat ribuan guru yang siap berkontribusi dalam meningkatkan kemampuan masyarakat dalam membaca Al-Qur’an.

“Saya merinding menyaksikan yang hadir di sini. Ini pemandangan luar biasa, para pejuang Al-Qur’an yang siap membebaskan masyarakat dari buta aksara Al-Qur’an dan menembus batin para muridnya,” ungkapnya.

Menag juga menyoroti keterwakilan guru ngaji perempuan dan laki-laki yang disebut berada dalam jumlah yang seimbang. Menurutnya, keberadaan para pendidik Al-Qur’an tersebut menjadi bagian penting dalam membangun generasi yang memiliki kemampuan literasi keagamaan.

Peran Ormas Dinilai Penting

Nasaruddin Umar menilai keterlibatan organisasi masyarakat Islam sangat dibutuhkan untuk memperluas jangkauan pendidikan Al-Qur’an di tengah masyarakat.

Ia mengapresiasi konsistensi Wahdah Islamiyah yang dinilainya mampu membangun jaringan dan menjangkau masyarakat di berbagai daerah meski tergolong sebagai organisasi yang relatif baru.

Menurutnya, upaya meningkatkan literasi Al-Qur’an harus dilakukan secara bersama-sama dengan tetap menjaga nilai-nilai keagamaan, persatuan, dan moderasi beragama.

Pernyataan Menag tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa peningkatan kemampuan membaca Al-Qur’an masih menjadi pekerjaan besar yang membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, organisasi keagamaan, para guru ngaji, keluarga, dan masyarakat.

Dengan dikukuhkannya 10.000 Guru Qur’an, Wahdah Islamiyah diharapkan dapat turut memperkuat gerakan pemberantasan buta huruf Al-Qur’an sekaligus memperluas akses pembelajaran Al-Qur’an hingga ke berbagai penjuru Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *