Oleh :Mashud Azikin
SULSELNEWS.NET –Ada kisah getir yang selalu berulang di setiap zaman: tentang mereka yang berjuang untuk rakyat, namun justru dikhianati oleh rakyatnya sendiri. Tentang para pahlawan yang memilih berkorban demi kebenaran, tetapi dibalas dengan ketakutan, pengkhianatan, dan sikap masa bodoh.
Ketika Ernesto “Che” Guevara ditangkap di tempat persembunyiannya, pengkhianatan datang bukan dari musuh bersenjata, melainkan dari seorang gembala domba yang hidup di antara rakyat kecil yang selama ini dibelanya. Saat ditanya mengapa ia melaporkan sang revolusioner, jawabannya sederhana tapi menghancurkan: “Perangnya dengan musuh membuat dombaku ketakutan.”
Kalimat itu menelanjangi kenyataan paling pahit dalam sejarah perjuangan manusia: banyak orang lebih takut kehilangan kenyamanan kecil daripada kehilangan martabat besar. Gembala itu bukan tokoh tunggal; ia adalah simbol jutaan manusia yang memilih diam, menunduk, dan aman, meski tahu ketidakadilan terjadi di depan mata.
Pahlawan dan Pedagang
Berabad-abad sebelum Che Guevara, di tanah Mesir yang penuh debu sejarah, seorang pemberani bernama Muhammad Karim memimpin perlawanan terhadap pasukan Prancis di bawah Napoleon Bonaparte. Ia melawan dengan gagah, demi tanah air dan kehormatan bangsanya. Namun ketika akhirnya tertangkap dan dijatuhi hukuman mati, Napoleon — sang penakluk yang terkenal dingin — justru memuji keberaniannya. Ia bahkan menawarkan pengampunan, asal Karim mampu membayar sepuluh ribu keping emas sebagai ganti rugi.
Karim tidak punya harta, tapi ia punya piutang kepada para pedagang — rakyatnya sendiri — senilai seratus ribu keping emas. Ia pergi menagih, dengan rantai di kakinya, berharap rakyat yang dulu ia bela akan menolongnya. Tapi apa yang ia dapatkan? Caci maki.
Para pedagang menolak membantu, menyalahkannya atas kehancuran ekonomi dan kerusakan kota Alexandria. Mereka menilai perjuangannya tidak membawa untung, hanya kerugian. Maka Karim kembali kepada Napoleon, dengan tangan kosong dan hati remuk. Napoleon menatapnya dan berkata dingin:
> “Aku tidak mengeksekusimu karena engkau melawan kami, tapi karena engkau berjuang untuk orang-orang pengecut yang lebih mencintai dagangan mereka daripada kebebasan negerinya.”
Luka yang Berulang
Kisah Che dan Karim adalah cermin yang tak lekang waktu. Keduanya mati bukan hanya oleh peluru musuh, tapi juga oleh ketidakpedulian bangsanya sendiri. Mereka terbunuh dua kali — pertama oleh penjajah, kedua oleh rakyat yang mereka cintai.
Muhammad Rasyid Ridha, ulama dan pemikir besar Mesir, pernah menulis dengan getir:
> “Pemberontak demi masyarakat yang bodoh seperti orang yang membakar dirinya untuk menerangi jalan bagi orang buta.”
Kata-kata itu bukan sekadar kritik, tetapi ratapan dari nurani yang kecewa. Ia menggambarkan penderitaan abadi dari setiap pejuang yang melawan kebodohan, kemunafikan, dan ketakutan bangsanya sendiri.
Cermin Zaman Kita
Sayangnya, kisah itu bukan hanya milik masa lalu. Ia hidup dalam diri kita hari ini. Betapa sering kita meninggalkan pemimpin yang adil, menusuk mereka yang menegakkan kebenaran, lalu memuja mereka yang bersuara manis tetapi bertekuk lutut di hadapan kekuasaan.
Kita memalingkan wajah dari mereka yang jujur karena mereka tidak pandai menjilat. Kita menyingkirkan yang lurus karena mereka tidak bisa diajak kompromi. Lalu kita tunduk di bawah kepemimpinan yang korup, yang tidak takut kepada Tuhan, dan menjual kedaulatan bangsa demi sedikit kuasa.
Kita memuja stabilitas, tapi lupa bahwa stabilitas tanpa keadilan hanyalah bentuk lain dari penindasan yang tenang. Kita membenci kegaduhan yang lahir dari perjuangan, tetapi betah hidup dalam kesunyian yang dipenuhi kebohongan.
Api dan Abu
Barangkali benar — tidak semua bangsa pantas memiliki pahlawan. Sebab pahlawan lahir dari rakyat yang berani, bukan dari mereka yang sibuk menimbang untung rugi sebelum berbuat benar. Perjuangan selalu menuntut luka, dan tak semua mau terluka.
Namun sejarah mengajarkan satu hal: api perjuangan tak akan padam hanya karena orang-orang menolak hangatnya. Mereka yang berjuang tulus tidak melakukannya demi tepuk tangan, tetapi demi nurani yang tak bisa dibungkam.
Maka jangan heran bila pahlawan sering mati sendirian. Sebab keberanian tidak pernah tumbuh dari keramaian, tetapi dari sunyi yang penuh keyakinan.
Penutup
Hari ini, di tengah dunia yang semakin bising oleh kepentingan dan kompromi, kita perlu bertanya: apakah kita sedang menjadi Che yang diburu, atau gembala yang melaporkan? Apakah kita Muhammad Karim yang dirantai, atau pedagang yang menolak menolong?
Sejarah tidak menunggu penonton. Ia hanya mencatat pelaku — yang berani melangkah meski sendiri, yang terus menyalakan api meski dikelilingi abu.
Karena benar, seperti kata Rasyid Ridha: membakar diri demi menerangi orang buta adalah kesia-siaan. Tapi barangkali, di tengah kegelapan umat, tetap lebih baik menjadi api yang sia-sia, daripada menjadi orang buta yang nyaman dalam gelap.












