Jusuf Kalla Minta Negara Islam Bersatu Redam Konflik Timur Tengah Lewat Dialog

SULSELNEWS.NET — Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla meminta negara-negara Islam mengedepankan dialog dan diplomasi untuk meredam konflik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, upaya damai harus menjadi prioritas agar ketegangan tidak berkembang menjadi perang terbuka yang semakin luas.

Pernyataan tersebut disampaikan Jusuf Kalla usai menjadi narasumber dalam Kongres Umat Islam ke-VIII di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Minggu (28/7/2026).

Jusuf Kalla mengaku prihatin dengan eskalasi konflik yang kembali terjadi di Timur Tengah. Padahal, sebelumnya sempat muncul harapan setelah adanya kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat.

“Kita sangat sayangkan apa yang terjadi makin meluas. Semula kita bergembira bahwa sudah ada kesepakatan antara Iran dengan Amerika, tapi buyar lagi, malah makin meluas,” ujar Jusuf Kalla.

Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) itu menilai negara-negara Arab dan negara Islam lainnya perlu mengambil peran lebih aktif dalam mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan perdamaian.

“Kita harapkan dari Timur Tengah sendiri, negara-negara Arab juga berusaha untuk mendamaikan masing-masing,” katanya.

Jusuf Kalla juga menyoroti konflik yang terjadi di Yaman, termasuk ketegangan antara kelompok Houthi dan pemerintah Yaman. Menurutnya, seluruh pihak perlu menahan diri dan mengedepankan rekonsiliasi agar situasi tidak semakin memperburuk kondisi kawasan.

“Kita harapkan Houthi itu sendiri juga harus menahan diri untuk dengan pemerintah berdamai. Jangan dalam keadaan begini internal mereka, Yaman kacau sehingga menimbulkan masalah Timur Tengah lagi,” ucapnya.

Selain itu, ia mengingatkan negara-negara yang memiliki pengaruh di kawasan agar tidak memperluas konflik ke wilayah lain. Penghentian kekerasan, menurutnya, menjadi langkah awal yang penting untuk membuka ruang dialog.

Jusuf Kalla menegaskan bahwa komunikasi dan saling pengertian merupakan kunci utama dalam menyelesaikan persoalan di dunia Islam.

“Konflik itu jangan kembali menjadi konflik terbuka. Terlalu banyak dialog antara negara-negara Islam itu,” ujarnya.

Ia menambahkan, organisasi internasional seperti Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) memiliki peran strategis dalam memperkuat persatuan negara-negara Islam sekaligus mendorong penyelesaian konflik secara damai.

“Semua bisa selesai kalau ada dialog, ada pengertian masing-masing. Kalau hanya akhirnya kekerasan saja, maka beginilah kehidupan dunia Islam itu,” katanya.

Jusuf Kalla juga menilai Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia memiliki tanggung jawab moral untuk ikut berkontribusi dalam mendorong terciptanya perdamaian di kawasan Timur Tengah.

“Indonesia sebagai negara penduduk masyarakat Islam terbesar tentu juga perlu untuk memberi inisiatif untuk hal-hal tersebut,” ujarnya.

Ia menegaskan Indonesia tetap konsisten mendukung penyelesaian konflik melalui jalur damai, termasuk terhadap konflik yang terjadi di Palestina dan berbagai wilayah Timur Tengah lainnya.

“Indonesia tentu mendukung perdamaian, sangat mendukung perdamaian. Apa yang terjadi di Palestina, apa yang terjadi di Timur Tengah merupakan suatu musibah,” kata Jusuf Kalla.

Menurutnya, posisi Indonesia bersama negara-negara Asia Tenggara yang relatif stabil dapat menjadi modal penting untuk mengambil peran lebih besar dalam mendorong perdamaian internasional.

“Indonesia, Malaysia, dan semuanya di Asia Tenggara, di antara negara-negara Islam kita yang paling aman melakukan itu,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *