News  

Seru, Tradisi Ratusan Warga Gowa Tangkap Ikan saat Rawa Surut di Musim Kemarau

SULSELNEWS.NET— Musim kemarau tak selalu berarti kekeringan dan kesulitan mendapatkan air. Bagi warga Desa Bontolangkasa Selatan, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, air rawa yang mulai surut justru menjadi momen yang dinanti.

Saat rawa mulai dangkal, ratusan warga turun ke area rawa untuk mengikuti tradisi A’mmacalak Juku, yakni menangkap ikan secara beramai-ramai.

Warga membawa berbagai perlengkapan, termasuk jala. Namun, sebagian lainnya memilih turun langsung ke lumpur dan menangkap ikan dengan tangan kosong.

Tak peduli pakaian kotor maupun kaki penuh lumpur, warga tetap antusias mencari ikan yang terjebak di antara air yang semakin dangkal.

Suasana semakin meriah ketika warga berhasil mendapatkan ikan. Sorakan dan tawa terdengar dari tengah rawa, sementara warga lainnya menyaksikan dari pinggir.

Tradisi tersebut menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun Desa Bontolangkasa Selatan.

Menariknya, ikan yang berhasil ditangkap tidak langsung dibawa pulang oleh masing-masing warga. Seluruh hasil tangkapan dikumpulkan untuk kemudian dibakar dan dinikmati bersama.

Tradisi ini membuat warga yang sebelumnya berjibaku di tengah rawa kemudian berkumpul dalam suasana kebersamaan sambil menikmati ikan hasil tangkapan.

Plt Kepala Desa Bontolangkasa Selatan, Muh. Naim Suro, mengatakan A’mmacalak Juku menjadi salah satu tradisi yang terus dipertahankan masyarakat desa.

Tradisi tersebut juga mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Gowa.

Bupati Gowa St. Husniah Talenrang menilai A’mmacalak Juku merupakan tradisi yang unik dan jarang dijumpai di daerah lain.

Menurutnya, tradisi tersebut tidak hanya menjadi ajang berkumpul dan bergembira, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya masyarakat.

A’mmacalak Juku menjadi gambaran bagaimana tradisi sederhana yang dilakukan secara turun-temurun tetap dipertahankan di tengah perubahan zaman.

Bagi masyarakat Desa Bontolangkasa Selatan, surutnya air rawa saat musim kemarau bukan sekadar perubahan kondisi alam, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mempererat kebersamaan sekaligus melestarikan tradisi desa.