SULSELNEWS.NET — Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, menekankan bahwa meskipun santri kini telah merambah berbagai lini profesi strategis, pondasi ibadah dan kedekatan dengan Tuhan harus tetap menjadi identitas utama. Hal ini ditegaskan saat memberi sambutan dalam acara perayaan Milad ke-20 Pondok Pesantren Madinatunnajah Is’ad (PPMI) Sholawatul Is’ad.
Menag menyatakan kebanggaannya melihat perkembangan santri yang kini telah mengisi kelas menengah atas, mulai dari jenderal, duta besar, hingga akademisi hebat. Namun, beliau memberikan peringatan fundamental agar kesuksesan duniawi tidak menggerus kebiasaan ibadah yang telah dibentuk di pesantren.
“Saya mohon anak-anak, di manapun kalian berada, (jaga) kepribadian santrinya. Jangan meninggalkan ibadah sunat. Kita kan tahu hadisnya kan, orang yang sudah tidak membedakan yang sunat dan yang fardu, sudah menjadikan ini sebagai habit-nya, maka dia bisa meminjam mata Tuhan untuk melihat, bisa meminjam telinga Tuhan untuk mendengar,” ujar Menag Nasaruddin Umar.
Dalam narasinya, Menag mengajak para santri dan alumni untuk menempatkan ibadah sunnah seperti shalat malam dan puasa sebagai prioritas, bukan sekadar pelengkap. Menurutnya, spiritualitas yang kuat adalah kunci bagi seorang pemimpin untuk mendapatkan bimbingan Ilahi dalam setiap langkahnya.
“Jangan melalaikan ibadah sunat, apakah itu sholat, apakah itu puasa, apakah itu ibadah-ibadah lain. Jadikan sunat itu sebagai wajib, jadikan makruh itu sebagai haram. Jadikan sunat itu wajib, insya Allah tidak perlu berdoa, Tuhan sudah tahu apa yang Anda inginkan,” tegas Menag.
Beliau menambahkan bahwa santri harus naik kelas, bukan hanya sekadar mengumpulkan pengetahuan (to have), tetapi menjadi pribadi yang menyatu dengan ilmu itu sendiri (to be). “Tetap selama kalian lengket dengan Tuhan, go ahead, the road you can go anywhere,” tambahnya.
Selain aspek spiritual, Menag juga menyoroti pentingnya solidaritas dan persatuan di antara alumni pesantren. Beliau berpesan agar alumni tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan membangun jejaring yang kuat untuk kemaslahatan bersama.
“Ananda para santri jangan jalan sendiri-sendiri, jangan main sendiri-sendiri. Al-ittihadu yadullah, persatuan itu akan melahirkan kekuatan. Di mana ada sinergi, di situ ada energi. Itulah artinya al-ittihadu yadullah,” pungkas Menag menutup sambutannya.












