Jusuf Kalla Nilai WFH Tak Signifikan Tekan Konsumsi BBM

SULSELNEWS.NET — Wakil Presiden ke 10 dan 12 Jusuf Kalla menilai kebijakan Work From Home (WFH) tidak memiliki dampak signifikan terhadap penghematan bahan bakar minyak (BBM), terutama jika dilihat dari sisi penggunaan energi secara keseluruhan.

Pernyataan tersebut disampaikan Jusuf Kalla kepada wartawan usai menghadiri acara petisi keadilan Hotel Sultan di Hotel Sultan Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Menurutnya, konsumsi energi di perkantoran pada dasarnya lebih banyak berasal dari listrik, bukan BBM. Ia menjelaskan bahwa listrik di wilayah Jakarta dan Jawa Barat sebagian besar masih dipasok oleh pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang menggunakan batu bara.

“Di kantor itu energi yang dipakai seperti lampu dan AC. Itu berasal dari listrik, bukan BBM. Sementara listrik kita sebagian besar masih dari PLTU berbasis batu bara,” ujarnya.

Meski demikian, Kalla mengakui bahwa WFH dapat memberikan efek penghematan BBM dari sisi mobilitas pegawai. Namun, ia menilai dampaknya terbatas dan berpotensi menurunkan produktivitas kerja serta layanan publik.

“Ada penghematan BBM bagi pegawai karena tidak perlu ke kantor. Tapi kalau pelayanan menurun atau produktivitas terganggu, dampaknya bisa lebih besar,” katanya.

Ia menekankan bahwa dalam kondisi krisis, masyarakat dan sektor industri justru perlu meningkatkan produktivitas, bukan mengurangi aktivitas kerja.

Lebih lanjut, Kalla menyarankan langkah penghematan BBM yang lebih efektif, seperti optimalisasi penggunaan transportasi umum, efisiensi energi rumah tangga, serta kebijakan harga yang mendorong masyarakat mengurangi konsumsi.

“Kalau harga BBM naik, orang akan otomatis mengurangi pemakaian. Itu pernah terjadi pada krisis 2005–2006,” jelasnya.

Ia menambahkan, kenaikan harga energi global merupakan faktor eksternal yang sulit dikendalikan, sehingga diperlukan kebijakan yang tepat untuk menekan konsumsi tanpa mengganggu aktivitas ekonomi secara signifikan.

Kalla pun mengingatkan agar pemerintah tidak membangun budaya kerja yang cenderung mengurangi aktivitas di tengah situasi krisis.

“Dalam kondisi seperti ini, kita harus lebih produktif. Pabrik harus tetap berjalan, pegawai harus bekerja optimal untuk mengatasi masalah,” tegasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *