Opini  

Fenomena Pembelajaran di Era Digital Humanis

SULSELNEWS.NET — Fenomena pembelajaran di era digital humanis menunjukkan perubahan besar dalam cara siswa belajar dan guru mengajar. Pembelajaran tidak lagi satu arah, tetapi menjadi proses interaktif, reflektif, dan berpusat pada peserta didik. Artikel ini menawarkan gagasan baru tentang integrasi teknologi dan nilai kemanusiaan, dengan guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing reflektif. Pemanfaatan platform daring, media interaktif, dan alat kolaborasi memperluas akses belajar, namun tetap menuntut penguasaan literasi digital, etika, dan pembentukan karakter. Refleksi ini juga menyoroti tantangan seperti risiko dehumanisasi, kesenjangan infrastruktur, dan keterbatasan literasi digital guru maupun orang tua. Secara keseluruhan, pembelajaran efektif di era digital humanis tercapai ketika teknologi digunakan untuk memberdayakan siswa, memperkuat interaksi sosial, serta menumbuhkan kreativitas, tanggung jawab, dan nilai moral. Artikel ini menegaskan perlunya pendekatan humanis agar peserta didik tidak hanya cerdas teknologi, tetapi juga berkarakter dan berempati.

Pendidikan kontemporer mengalami transformasi signifikan seiring pesatnya perkembangan teknologi digital. Pergeseran dari pembelajaran tatap muka menuju pembelajaran fleksibel dan berbasis teknologi bukan hanya perubahan metode, tetapi perubahan paradigma dalam memaknai hakikat belajar. Belajar kini dipahami sebagai proses aktif membangun pengetahuan, karakter, dan makna hidup. Dalam konteks digitalisasi masif, muncul kebutuhan akan pendekatan pembelajaran digital humanis, yaitu pembelajaran yang tetap berpusat pada manusia dan menjadikan teknologi sebagai sarana pemberdayaan, bukan pengganti interaksi edukatif.

Digitalisasi memang menghadirkan kecepatan, efisiensi, dan akses informasi tanpa batas. Namun, kondisi ini juga menimbulkan risiko dehumanisasi, seperti berkurangnya interaksi bermakna, meningkatnya ketergantungan layar, dan melemahnya refleksi kritis peserta didik. Karena itu, paradigma pembelajaran perlu bergerak dari sekadar penggunaan teknologi menuju pemanfaatan teknologi secara humanis, yang menempatkan nilai empati, kepedulian sosial, dan tanggung jawab sebagai inti proses belajar. Guru dalam kerangka ini berperan sebagai fasilitator reflektif yang memantik kesadaran kritis dan kreativitas peserta didik, bukan hanya penyampai materi.

Pembelajaran abad ke-21 juga memperlihatkan munculnya ruang belajar alternatif melalui jejaring sosial, platform digital, dan ekosistem teknologi lainnya. Anak tidak hanya belajar dari guru, tetapi dari lingkungan digital yang sering tidak selaras dengan nilai-nilai sekolah. Karena itu, pendidikan harus berorientasi pada literasi digital bermoral, yaitu kemampuan menggunakan teknologi secara baik, produktif, dan beretika. Sekolah tidak cukup mengajarkan keterampilan digital, tetapi juga harus menumbuhkan kebijaksanaan dalam berteknologi.

Pembelajaran di era digital humanis menuntut terbentuknya ekosistem pendidikan yang adaptif dan partisipatif, melibatkan guru, siswa, orang tua, dan masyarakat. Kolaborasi lintas konteks melalui model seperti Project-Based Learning, Service Learning, dan Inquiry Learning memungkinkan peserta didik belajar melalui pengalaman yang relevan dengan kehidupan nyata. Sejalan dengan semangat Merdeka Belajar, kurikulum perlu dirancang lebih sederhana, fleksibel, dan berorientasi pada kompetensi berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi.

Transformasi digital memberikan dampak positif dalam meningkatkan kemandirian belajar. Peserta didik memiliki keleluasaan mengatur waktu, tempat, dan cara belajar sesuai ritme masing-masing. Akses terhadap sumber digital seperti jurnal, video, dan simulasi interaktif memperluas kesempatan belajar mandiri dan kontekstual. Selain itu, interaksi global melalui platform digital memperkuat keterampilan kolaborasi, komunikasi, dan toleransi lintas budaya—kompetensi penting dalam membentuk karakter generasi yang inklusif.

Meskipun demikian, era digital juga membawa tantangan seperti kejenuhan, distraksi, dan menurunnya interaksi sosial langsung. Anak-anak berpotensi lebih tertarik pada dunia maya dibanding lingkungan sekitarnya. Jika tidak diimbangi pendampingan moral, mereka dapat mengalami penurunan kedalaman berpikir akibat budaya instan. Oleh karena itu, pembelajaran digital humanis menekankan pentingnya refleksi, diskusi bermakna, dan bimbingan nilai agar peserta didik tidak hanya mengetahui banyak hal, tetapi memahami makna di balik pengetahuan tersebut.

Peran guru mengalami redefinisi besar dalam era digital. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi, tetapi menjadi fasilitator, motivator, dan pembimbing yang mengarahkan peserta didik pada pembelajaran reflektif (Zhao, 2019). Kompetensi guru abad ke-21 memerlukan integrasi pengetahuan teknologi, pedagogi, dan konten sebagaimana dijelaskan dalam model Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) (Mishra & Koehler, 2020). Penguasaan teknologi saja tidak cukup; guru harus memahami bagaimana teknologi digunakan untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.

Selain kompetensi teknis, guru juga membutuhkan kecerdasan sosial-emosional untuk memastikan dimensi kemanusiaan tetap hadir dalam pembelajaran digital (Noddings, 2015). Interaksi empatik, komunikasi hangat, dan perhatian individual menjadi elemen penting untuk mencegah hilangnya kedekatan psikologis di ruang belajar virtual. Pendekatan pembelajaran berbasis cinta (Rahman, 2024) menegaskan pentingnya hubungan positif yang mengutamakan penghargaan, kasih sayang, dan martabat peserta didik.

Guru juga berperan menumbuhkan literasi digital kritis (Hobbs, 2020). Di tengah derasnya informasi, peserta didik perlu dibimbing untuk memilah informasi, memahami risiko digital, dan menggunakannya secara etis. Kebijakan Merdeka Belajar menempatkan guru sebagai agen perubahan sosial yang berwenang mengembangkan pembelajaran kontekstual dan relevan (Kemendikbudristek, 2021; Setiawan & Nurhayati, 2022).

Solusi Pembelajaran Digital Humanis

Solusi yang dapat diimplementasikan meliputi integrasi strategi pembelajaran aktif seperti Project-Based Learning dan Inquiry Learning, pemanfaatan platform digital yang interaktif, serta evaluasi autentik berbasis proyek, portofolio, dan refleksi. Pendekatan ini mengembangkan kreativitas, kolaborasi, dan tanggung jawab sosial.

Selain strategi, diperlukan budaya literasi digital etis di sekolah serta keterlibatan aktif orang tua dalam mengawasi dan membimbing penggunaan teknologi di rumah. Sinergi antara guru, peserta didik, orang tua, dan institusi pendidikan menjadi fondasi keberhasilan pembelajaran digital yang humanis.

Pembelajaran di era digital humanis menuntut integrasi harmonis antara teknologi dan nilai kemanusiaan. Teknologi membuka peluang tanpa batas, tetapi keberhasilan pendidikan tetap ditentukan oleh kemampuan guru memadukan pedagogi, konten, dan teknologi secara reflektif. Dengan pendekatan humanis yang menekankan empati, literasi digital, kreativitas, dan tanggung jawab sosial, peserta didik dapat tumbuh menjadi pribadi yang cerdas digital sekaligus berkarakter. Transformasi ini membutuhkan komitmen bersama agar pendidikan tetap bermakna, inklusif, dan berpihak pada kemanusiaan.

SAENAL R. (Magister Pedagogi Universitas Muhammadiyah Malang)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *