SULSELNEWS.NET — Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman bersama Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulsel meninjau langsung progres pengerjaan proyek pembangunan Bendungan Jenelata di Desa Tanakaraeng, Kecamatan Manuju, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Proyek strategis nasional ini ditargetkan rampung pada tahun 2028.
Kunjungan tersebut turut dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Sulawesi Selatan, Kepala Balai Pemantapan Kawasan Hutan dan Tata Lingkungan Wilayah VII Makassar, Region Head PTPN 1 Regional 8, Kepala BBWS Pompengan, Bupati Gowa, serta jajaran Forkopimda Provinsi dan Kabupaten Gowa.
Dalam keterangannya, Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman mengungkapkan bahwa progres pembangunan Bendungan Jenelata telah mencapai 19,56 persen. Ia menyebut proyek ini akan membawa banyak manfaat bagi masyarakat, mulai dari pengendalian banjir, penyediaan air irigasi, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), hingga potensi pengembangan sektor pariwisata.
“Kehadiran Bendungan Jenelata ini akan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat, seperti mereduksi banjir, menjadi suplai air irigasi, pembangkit listrik PLTA, membantu penyediaan air baku, hingga membuka peluang pariwisata,” ujar Andi Sudirman Sulaiman.
Selain itu, bendungan ini direncanakan mampu mengairi lahan irigasi seluas 26.773 hektar dengan daya tampung mencapai 223,6 juta meter kubik air.
Sementara itu, Kepala BPN Kabupaten Gowa, Aksara Alif Raja, menjelaskan bahwa proses pembebasan lahan untuk proyek Bendungan Jenelata terus berjalan. Hingga kini, pembayaran ganti rugi lahan masyarakat untuk 134 bidang masih menunggu hasil perhitungan dari tim appraisal.
“Pembebasan atau ganti rugi lahan masyarakat untuk proyek Bendungan Jenelata sudah memasuki tahap keempat, dengan luas lahan yang akan dibayarkan sebanyak 134 bidang,” ungkap Aksara Alif Raja.
Diketahui, luas keseluruhan lahan yang masuk kawasan Bendungan Jenelata mencapai 1.722,28 hektar, terdiri dari 2.991 bidang. Hingga saat ini, lahan yang sudah dibebaskan baru mencapai 167,41 hektar atau 656 bidang. Masih tersisa 1.554,87 hektar dengan 2.335 bidang yang belum dibebaskan.
Adapun anggaran pembangunan yang telah digunakan pada tahun 2025 mencapai sekitar Rp1 triliun dari total anggaran yang disiapkan sebesar Rp4,15 triliun untuk konstruksi proyek bendungan tersebut.












