SULSELNEWS.NET — Musim kemarau tak selalu identik dengan panas dan kekeringan. Di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, surutnya debit air justru memunculkan pemandangan tak biasa yang menarik perhatian warga.
Bebatuan di bawah Bendung Kampili, Desa Kampili, Kecamatan Pallangga, kini menjadi spot foto favorit warga, khususnya kalangan anak muda.
Setiap sore, ratusan pengunjung datang ke lokasi tersebut. Sebagian menikmati suasana, sementara lainnya mengabadikan momen dengan berswafoto maupun membuat video untuk dibagikan ke media sosial.
Saat debit air menurun, permukaan bebatuan yang selama ini tertutup air mulai terlihat. Batu-batu tersebut memiliki bentuk yang unik, lengkap dengan celah dan lubang alami yang menciptakan latar menarik untuk berfoto.
Aliran air yang masih tersisa di antara bebatuan semakin menambah kesan alami kawasan tersebut.
Pengunjung terlihat datang silih berganti. Ada yang duduk menikmati suasana, berjalan menyusuri bebatuan, hingga mencari titik terbaik untuk berfoto dengan latar bendungan.
Bagi warga, terutama anak muda, kawasan ini menjadi pilihan baru untuk menghabiskan waktu sore. Lokasinya juga relatif mudah dijangkau dari wilayah Makassar maupun Gowa.
Menurut sejumlah pengunjung, Bendung Kampili baru ramai sekitar sebulan terakhir, sejak debit air mulai turun akibat musim kemarau.
“Sekarang ramai karena airnya surut. Banyak yang datang untuk foto-foto,” ujar Cantika, salah seorang pengunjung.
Bendung Kampili sendiri bukanlah bangunan baru. Bendung tersebut telah ada sejak 1930 dan menjadi bagian penting dari sistem irigasi yang melayani area persawahan di sejumlah wilayah Gowa, Takalar hingga Makassar.
Namun, ketika musim kemarau tiba, sisi lain dari bendung tersebut justru terlihat. Bebatuan yang muncul saat air surut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
Foto dan video yang dibuat pengunjung kemudian beredar di media sosial. Hal itu turut membuat lokasi tersebut semakin dikenal dan menarik lebih banyak warga untuk datang, terutama pada Sabtu dan Minggu sore.
Untuk menuju Bendung Kampili dari arah Makassar, pengunjung dapat melintasi Jembatan Kembar kemudian mengarah ke kawasan Kampus IPDN di Kecamatan Pallangga.
Dari Jalan Poros Pallangga, lokasi bendung dapat ditempuh beberapa kilometer. Kendaraan juga bisa masuk hingga area sekitar lokasi dengan biaya parkir sekitar Rp5.000.
Setelah memarkir kendaraan, pengunjung harus berjalan menuju pinggir tanggul dan turun ke area bebatuan.
Meski menawarkan pemandangan menarik, pengunjung diminta tetap berhati-hati. Permukaan bebatuan cukup tajam dan licin, terutama di sekitar aliran air.
Pengunjung juga disarankan tidak terlalu dekat dengan arus air serta menghindari bagian bendung yang berpotensi membahayakan.
Bendung Kampili pada dasarnya dibangun bukan sebagai kawasan wisata, melainkan untuk mendukung kebutuhan irigasi. Namun, perubahan pemandangan saat musim kemarau memberikan daya tarik tersendiri bagi warga.
Tempat yang sebelumnya hanya dilalui aliran air kini berubah menjadi ruang berkumpul masyarakat. Anak-anak muda datang untuk berbincang, menikmati suasana sore dan mengabadikan momen.
Ketika matahari mulai terbenam, bebatuan Bendung Kampili semakin menarik dengan latar alami yang membuatnya menjadi salah satu spot foto musiman di Gowa.
Bagi warga yang ingin menikmati suasana berbeda pada sore hari, Bendung Kampili bisa menjadi pilihan. Namun, kebersihan lingkungan harus tetap dijaga dan keselamatan menjadi hal utama selama berada di kawasan bendung.












