SULSELNEWS.NET — Malam menyelimuti Pos Pengungsian Sengari, Kelurahan Wangkang, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Penerangan di lokasi pengungsian terbatas. Namun, kondisi tersebut tak menyurutkan langkah tim medis Palang Merah Indonesia (PMI) untuk tetap memberikan pelayanan kesehatan kepada warga terdampak gempa.
Di tengah suasana pengungsian yang sederhana, dokter, perawat dan relawan PMI terus menjalankan tugas kemanusiaan. Dengan fasilitas yang tersedia di lapangan, mereka memeriksa kondisi warga dan memberikan pelayanan medis bagi masyarakat yang membutuhkan.
Bagi warga yang masih bertahan di pengungsian, keberadaan tenaga medis menjadi kebutuhan penting. Pascabencana, masyarakat tidak hanya menghadapi kerusakan dan kehilangan, tetapi juga membutuhkan akses pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau.
Staf Divisi Kesehatan dan Sosial Markas Pusat PMI, Mahfud, mengatakan PMI mengerahkan tim kesehatan dari sejumlah wilayah untuk menjangkau masyarakat terdampak, terutama warga yang berada di titik-titik pengungsian yang belum mendapatkan pelayanan kesehatan.
“Saat ini kami mengerahkan satu tim dari RS PMI Bogor yang terdiri dari satu dokter dan dua perawat. Kemudian satu tim dari PMI DKI Jakarta yang terdiri dari satu dokter dan dua perawat, serta didukung dua relawan dari PMI Kabupaten Manggarai,” ujar Mahfud.
Menurut Mahfud, para tenaga kesehatan tersebut tidak hanya memberikan pelayanan di satu lokasi. Setiap hari, tim bergerak dari satu titik ke titik lainnya melalui layanan mobile clinic.
“Setiap hari tim melakukan mobile clinic ke titik-titik pengungsian yang sampai saat ini masih belum menerima layanan kesehatan. Kami berupaya mendatangi langsung masyarakat agar mereka tetap mendapatkan akses pemeriksaan dan pelayanan medis,” katanya.
Keluhan Kesehatan Warga Dipantau
Mahfud mengatakan, hasil pemeriksaan di lapangan menjadi gambaran mengenai kebutuhan kesehatan masyarakat di lokasi terdampak. Data tersebut juga menjadi bahan bagi tim untuk menentukan layanan yang perlu diperkuat.
“Keluhan yang cukup banyak ditemukan adalah mialgia, kemudian hipertensi dan ISPA, serta dermatitis. Data ini terus kami pantau sebagai bagian dari upaya memastikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Mahfud.
Layanan mobile clinic dilakukan dengan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan masyarakat di setiap lokasi. Kehadiran relawan PMI Kabupaten Manggarai juga membantu tim menjangkau titik-titik pengungsian sekaligus berkoordinasi dengan masyarakat setempat.
Bagi warga terdampak, pelayanan kesehatan di tengah pengungsian bukan sekadar pemeriksaan dan pengobatan. Kehadiran dokter, perawat dan relawan PMI juga memberikan rasa aman serta dukungan moral bagi masyarakat yang masih berada dalam situasi pascabencana.
Penerangan Terbatas Tak Hentikan Pelayanan
Bahkan ketika malam tiba, pelayanan kesehatan tetap dilakukan. Keterbatasan penerangan di lokasi pengungsian tidak menjadi alasan bagi tim medis PMI untuk menghentikan tugas.
Mahfud menegaskan, dalam situasi darurat, pelayanan kesehatan harus tetap berjalan selama masyarakat masih membutuhkannya.
“Dalam kondisi darurat seperti ini, pelayanan kesehatan tidak boleh berhenti hanya karena keterbatasan situasi di lapangan. Meskipun malam hari dan penerangan di lokasi pengungsian terbatas, tim medis PMI tetap berupaya memberikan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.
Menurut Mahfud, keberadaan tenaga kesehatan di lokasi pengungsian memiliki makna yang lebih luas. Selain memberikan pelayanan medis, tim PMI ingin memastikan warga terdampak mengetahui bahwa mereka tidak menghadapi bencana seorang diri.
“Kehadiran tenaga kesehatan bukan hanya soal memberikan pemeriksaan atau pengobatan, tetapi juga memastikan masyarakat terdampak bencana merasa bahwa mereka tidak sendiri. PMI akan terus berupaya hadir sesuai kebutuhan masyarakat di lokasi pengungsian,” kata Mahfud.
Kerja kemanusiaan itu terus berlangsung dari siang hingga malam. Ketika sebagian warga mulai beristirahat, tenaga medis dan relawan PMI masih bersiaga untuk memberikan pertolongan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Di tengah gelapnya malam dan keterbatasan fasilitas, layanan kesehatan tetap menyala di Pos Pengungsian Sengari.
Bagi PMI, kerja kemanusiaan tidak mengenal waktu. Selama masyarakat terdampak masih membutuhkan bantuan, dokter, perawat dan relawan akan terus berupaya hadir memberikan pelayanan.












