Oleh: Bang Har (Penulis Kampung Sulsel)
Senin, 17 Agustus 2026 kemarin, kita kembali berkumpul dalam upacara memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Sang Merah Putih kita kibarkan. Kita berdiri tegak, memberi hormat, lalu bersama-sama meneriakkan satu kata yang sudah 81 tahun kita warisi: Merdeka!
Tetapi setelah upacara selesai, kita kembali kepada kehidupan masing-masing.
Bendera tetap berkibar di tiang. Namun, pertanyaannya: apakah kemerdekaan itu juga sudah berkibar dalam kehidupan kita?
Jangan-jangan, kemerdekaan kita baru sebatas sampai di tiang.
Sebab di luar lapangan upacara, masih banyak rakyat yang harus menghitung uang sebelum membeli kebutuhan sehari-hari. Pajak dan berbagai beban kehidupan terasa semakin berat, sementara ekonomi belum juga memberi ruang yang cukup bagi banyak orang untuk bernapas lega.
Ada yang bekerja keras, tetapi hasilnya hanya cukup untuk bertahan.
Ada yang ingin hidup tenang, tetapi harga kebutuhan terus berjalan naik.
Ada pula yang berharap hukum menjadi tempat mencari keadilan, tetapi kadang justru melihat hukum seperti permainan-tajam kepada yang lemah, tetapi bisa tumpul ketika berhadapan dengan mereka yang punya kuasa.
Di tengah keadaan seperti itu, kata “merdeka” terkadang terasa begitu indah ketika diteriakkan di lapangan, tetapi terasa begitu jauh ketika dibawa pulang ke rumah.
Kita memang sudah merdeka dari penjajahan.
Tetapi apakah rakyat sudah merdeka dari kemiskinan?
Apakah sudah merdeka dari ketakutan?
Apakah sudah merdeka dari ketidakadilan?
Apakah sudah merdeka secara ekonomi, politik, hukum, dan dalam seluruh sendi kehidupan?
Mungkin jawabannya belum.
Bahkan bagi sebagian rakyat, kemerdekaan terasa semakin jauh. Mereka tidak sedang meminta hidup mewah. Mereka hanya ingin hidup layak. Ingin bekerja dan dihargai. Ingin mendapatkan keadilan. Ingin hukum berdiri tanpa melihat siapa yang punya kuasa dan siapa yang tidak punya apa-apa.
Maka, pengibaran Sang Pusaka kemarin jangan berhenti sebagai seremonial tahunan.
Biarlah Merah Putih yang berkibar di tiang menjadi pengingat bahwa masih ada pekerjaan besar yang belum selesai.
Sebab kemerdekaan bukan sekadar bendera yang naik ke puncak tiang.
Kemerdekaan adalah ketika rakyat benar-benar merasakan bahwa hidupnya lebih baik, hukum berpihak pada keadilan, ekonomi memberi kesempatan, dan negara hadir untuk semua.
Jika Merah Putih hanya berkibar di tiang, sementara di bawahnya rakyat masih berjuang melawan kemiskinan, ketidakadilan, dan beban kehidupan, maka mungkin kita perlu bertanya kembali:
Sudah sejauh mana kemerdekaan itu sampai kepada kita?
Sebab 81 tahun merdeka seharusnya bukan hanya tentang berapa lama bendera telah berkibar.
Tetapi tentang berapa banyak rakyat yang akhirnya bisa berkata dengan jujur:
“Ya, saya benar-benar merasakan kemerdekaan.”
Merdeka.(**)












