MALANG — Indonesia tidak boleh berhenti sebagai pasar bagi kecerdasan buatan, produk biologi, terapi gen, dan berbagai inovasi kesehatan dunia.
Perguruan tinggi, industri, dan pemerintah harus membangun ekosistem bersama agar Indonesia mampu melahirkan riset, menghilirkan inovasi, sekaligus menjadi produsen teknologi kesehatan masa depan.
Pesan itu disampaikan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., saat menyampaikan orasi ilmiah pada Wisuda ke-122 Program Vokasi, Sarjana, dan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Hall DOME UMM, Kampus III, Jalan Raya Tlogomas No. 246, Malang. Di hadapan ribuan orang, Taruna memaparkan konsep kolaborasi Academy, Business, and Government (ABG) yang dipadukan dengan pendekatan neuroscience leadership untuk menjawab percepatan AI, revolusi bioteknologi, perubahan industri farmasi, dan kompetisi global di bidang kesehatan.
Dalam kunjungan ke Universitas Muhammadiyah Malang tersebut, Taruna Ikrar didampingi Sekretaris Utama Irjen Pol. Jayadi, Deputi II Mohamad Kashuri, Staf Khusus Pakar Ahli BPOM RI dr. Wachyudi Muchsin, serta sejumlah pejabat pimpinan tinggi pratama atau pejabat eselon II di lingkungan BPOM RI.
Wisuda tersebut dihadiri Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., beserta jajaran Senat dan Guru Besar, sivitas akademika UMM, para wisudawan dan wisudawati, serta orang tua dan keluarga. Hall DOME UMM dipenuhi para lulusan dan keluarga dalam suasana khidmat dan semarak.
Dalam orasi bertajuk “Synergizing Breakthrough of Neuroscience and Pharmaceutical Innovation with Regulatory Leadership”, Taruna menjelaskan bahwa neurosains berfokus pada upaya memahami kompleksitas otak manusia, mengembangkan terapi baru untuk gangguan neurologis, serta mengeksplorasi neuroteknologi untuk memperkuat fungsi otak dan meningkatkan kualitas hidup manusia. Dalam perspektif spiritual, kata dia, Allah Swt menganugerahkan otak sebagai pusat akal, ilmu, kesadaran, dan pengambilan keputusan sehingga manusia mengemban amanah sebagai khalifah di bumi.
Taruna juga menyinggung aktivitas spiritual seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, shalat, dan berpuasa dalam perspektif neurosains. Menurut paparannya, aktivitas tersebut berkaitan dengan proses yang mendukung fokus, pengendalian diri, ketenangan emosi, pengelolaan stres, serta kemampuan adaptasi otak atau neuroplasticity. Dari titik inilah neuroscience leadership menjadi relevan karena pemimpin masa depan tidak cukup hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga harus mampu mengelola emosi, memahami manusia, mengambil keputusan secara rasional, dan beradaptasi terhadap kompleksitas.
“Pemimpin masa depan tidak cukup hanya cerdas secara intelektual. Ia harus mampu mengelola emosi, memahami manusia, mengambil keputusan secara rasional, beradaptasi terhadap kompleksitas, dan tetap memiliki fondasi nilai,” tegas Taruna.
Menurut Taruna, sinergi neurosains dan kecerdasan buatan membuka peluang besar dalam dunia kesehatan. AI dapat memperkuat kemampuan untuk memprediksi efektivitas obat, potensi efek samping, dan respons individual pasien sehingga mendorong sistem kesehatan menuju pendekatan yang lebih cerdas, presisi, personal, dan berbasis data. Pada saat yang sama, inovasi penyuntingan gen, biologi sintetis, pengobatan regeneratif, terapi terarah, dan sistem penghantaran obat inovatif membuka peluang menangani penyakit yang sebelumnya sulit diatasi.
Besarnya perubahan industri kesehatan terlihat dari pertumbuhan produk biologi. Taruna memaparkan, jumlah paten produk biologi meningkat signifikan dalam periode 1987 hingga 2021, mencakup antibodi, protein fusi, terapi gen dan sel, serta vaksin. Nilai pasar biofarmasi, khususnya produk biologi, melonjak dari sekitar USD 291 miliar pada 2018 menjadi USD 559 miliar pada 2023, dengan Compound Annual Growth Rate sekitar 14 persen.
“Indonesia harus mengambil posisi strategis dalam perubahan besar ini. Jangan hanya menjadi pasar inovasi global. Kita harus membangun kapasitas riset, memperkuat hilirisasi, menciptakan produk, dan memastikan inovasi anak bangsa memiliki jalan menuju industri dan pasar,” ujar Taruna.
Di tengah percepatan inovasi, Taruna menekankan pentingnya kepemimpinan regulatori. Kemajuan sains harus diimbangi sistem yang kuat untuk menjamin keamanan, mutu, dan khasiat, tetapi regulasi juga tidak boleh tertinggal dari teknologi. Sebagai respons terhadap perkembangan teknologi kesehatan, BPOM telah menerbitkan Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2025 tentang Pedoman Penilaian Produk Terapi Advanced. Penguatan sistem regulatori juga dilakukan melalui implementasi Good Regulatory Practice (GRP), pembangunan infrastruktur, kolaborasi regional dan global, pengakuan Indonesia sebagai WHO Listed Authority (WLA), serta penerapan smart regulation.
Taruna menempatkan konsep ABG sebagai strategi untuk mempertemukan kekuatan akademik, industri, dan pemerintah. BPOM, menurut dia, telah memiliki naskah kerja sama dengan sedikitnya 186 perguruan tinggi di Indonesia. Sementara sektor usaha terkait obat dan makanan mencakup lebih dari 45 ribu industri dan 4,2 juta UMKM. BPOM mengawal ekosistem tersebut melalui dukungan regulatori, kemudahan investasi, pendampingan inovasi, dan percepatan timeline registrasi produk tanpa mengurangi standar keamanan, mutu, dan khasiat.
“ABG bukan sekadar konsep kolaborasi. Ini adalah ekosistem. Akademisi melahirkan ilmu dan inovasi, bisnis melakukan hilirisasi dan menciptakan nilai ekonomi, sementara pemerintah memastikan regulasi memberi kepastian, perlindungan, sekaligus ruang bagi inovasi untuk tumbuh,” katanya.
Di hadapan para wisudawan, Taruna mengingatkan bahwa gelar akademik bukan titik akhir. Generasi muda akan memasuki dunia yang berubah cepat akibat AI, revolusi bioteknologi, otomatisasi, kompetisi talenta global, dan transformasi industri kesehatan. Karena itu, mereka membutuhkan pola pikir bertumbuh, kemampuan beradaptasi, keberanian berinovasi, ketangguhan emosional, integritas, dan kemampuan bekerja lintas disiplin.
“Dengan ilmu yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan di UMM, tulislah babak berikutnya dari kemajuan sains, pembangunan, dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Jangan hanya menjadi penonton perubahan. Jadilah pencipta perubahan,” pesan Taruna.
Melalui konsep ABG berbasis neuroscience leadership, Taruna mendorong pertemuan antara kekuatan otak manusia, kecerdasan buatan, inovasi farmasi, bioteknologi, dunia usaha, perguruan tinggi, dan regulasi negara agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar, tetapi tumbuh sebagai salah satu pencipta masa depan kesehatan dunia.












